Internet

Bobol, Tokopedia Alami Krisis Kepercayaan dari Para Pengguna?

Under the Breach, layanan pemantauan dan pencegahan pelanggaran data telah melaporkan bahwasanya e-commerce ternama asal Indonesia, Tokopedia, baru saja mengalami aksi peretasan. Di laporannya, Under the Breach menyampaikan bahwa ada 91 juta data pengguna yang bocor.

Kabar peretasan yang dialami oleh Tokopedia sendiri sempat membuat geger publik Indonesia. Meskipun begitu, pihak perusahaan mengklaim kata sandi dan seluruh transaksi para pengguna masih dalam kondisi aman atau tidak mengalami peretasan.

Baca juga: Alami Peretasan, Tokopedia Klaim Data Pengguna Aman

Peretasan Buat Tokopedia Kehilangan Kepercayaan?

Bobolnya Tokopedia oleh aksi peretasan membuat platform pimpinan William Tanuwijaya tersebut mengalami krisis kepercayaan dari para penggunanya. Hal yang demikian itu sendiri merupakan sesuatu yang lumrah, karena para pengguna pasti akan merasa was-was atau takut apabila mereka menjadi korban peretasan selanjutnya.

Kondisi yang dialami Tokopedia ini sendiri dikomentari oleh Ignatius Untung selaku Ketua Asosiasi E-Commerce Indonesia (idEA). Dalam pernyataannya, Untung memastikan bahwa Tokopedia adalah korban sehingga kesalahan tersebut tidak bisa dilimpahkan sepenuhnya kepada e-commerce yang identik dengan warna hijau tersebut.

“Peretasan ini akan menurunkan kepercayaan konsumen, jadi tidak ada platform yang secara sengaja, menurunkan kepercayaan konsumennya terhadap mereka. Artinya tidak ada satu player

pun yang akan mengabaikan masalah security,” ungkap Ignatius Untung seperti yang dikutip dari CNBC Indonesia, (10/5).

Untung kemudian memberikan tips kepada para pengguna TokPed (Tokopedia) untuk menghindari peretasan melalui cara sederhana, yakni dengan mengubah kata sandi tiap tiga bulan sekali. Meski pengubahan kata sandi tidak menjamin keamanan, setidaknya hal yang demikian itu jauh lebih baik untuk dilakukan ketimbang tidak sama sekali.

Baca juga: Bocor, Kominfo dan BSSN Akan Evaluasi Keamanan Tokopedia

Terakhir, Untung meminta semua pihak untuk melihat permasalahan dengan lebih bijaksana. Menurutnya, setiap platform yang mengalami pembobolan data harus ditempatkan sebagai korban, dan bukan sebagai pelaku. Dalam kasus ini, TokPed adalah korban sehingga para pengguna tidak bisa melemparkan 100 persen kesalahan pada TokPed.

“Kita juga dorong pemerintah, soal undang-undang tentang perlindungan konsumen, untuk tidak fokus pada perusahaan yang dibobol saja, tapi yang membobol juga harus dikejar dan diberi efek jera,” tambah Ignatius Untung.


Loading...
Baca selengkapnya

Artikel terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close