Internet

Cari Kesempatan dalam Kesusahan, Hacker Juga Buat Peta Corona

Penyebaran Corona yang tak kunjung mereda membuat berbagai pihak turun tangan dengan caranya masing-masing. Salah satu pihak yang turun tangan dalam menangani kasus Corona ini adalah peneliti dari Center for Systems Science and Engineering (CSSE), Johns Hopkins University, Amerika Serikat.

Nama peneliti yang dimaksud adalah Lauren Gardner. Sebagai upayanya melawan Corona, Lauren telah membuat peta digital yang memungkinkan publik dunia memantau wilayah-wilayah mana saja yang sudah terpapar Corona beserta jumlah korbannya.

Peta Buatan Lauren Akurat

Sebagian kalangan mungkin ada yang ragu akan keakuratan peta Corona yang dibuat oleh Lauren Gardner. Namun dalam pernyataannya, Lauren mengungkapkan jika peta Corona buatannya itu bisa dipertanggungjawabkan sehingga keakuratannya dijamin.

Peta Corona buatan Lauren Gardner dapat dipertanggungjawabkan keakuratannya karena ia mengambil data dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC), Komisi Kesehatan Nasional Republik Rakyat China, dan Dingxiangyuan.

Dingxiangyuan sendiri merupakan situs jejaring sosial yang diperuntukkan para profesional di bidang kesehatan yang menyediakan informasi secara real time tentang kasus-kasus Corona. Lauren Gardner sendiri dalam salah satu pernyataannya mengatakan jika Peta Corona yang ia buat bisa digunakan atau diperuntukkan untuk penelitian.

Baca juga: Peta Digital Ini Mampu Tunjukkan Negara yang Terkena Virus Corona

Hacker Juga Buat Peta Corona

Virus Corona (COVID-19) sudah ditetapkan oleh WHO sebagai pandemi. Di saat publik dunia was-was akan penyebaran Corona, sebagian oknum ada yang memanfaatkan keadaan tersebut untuk melakukan peretasan.

Dilansir dari The Next Web, (13/3/2020), Shai Alfasi, seorang peneliti keamanan dari Reason Labs telah menemukan bahwasanya para peretas menggunakan peta Corona buatan Lauren Gardner untuk mencuri informasi pengguna seperti username, password, nomor kartu kre dit, dan info lain yang tersimpan di browser

para pengguna.

Jadi para peretas membuat situs web yang serupa, kemudian di situs web yang mereka buat itu, para peretas meminta pengguna untuk mengunduh sebuah aplikasi agar selalu mendapatkan informasi terbaru seputar Corona.

Namun, ketika para pengguna mulai memasang aplikasi yang diminta, para peretas akan mulai memasukkan file biner berbahaya dan memasangnya di komputer korban. Saat ini, aksi peretasan baru dilakukan di Windows saja.

Menurut Shai Alfasi, ke depannya para peretas akan mengembangkan aksi yang mereka lakukan di sistem operasi lain. Oleh karena itu, para pencari informasi seputar Corona harus lebih berhati-hati agar tidak menjadi korban peretasan.

Tampilan peta Corona buatan para hacker:

Baca juga: Kian Meluas, Corona Ditetapkan WHO Sebagai Pandemi

Adapun untuk peta Corona yang asli yang merupakan peta buatan Lauren Gardner, Anda bisa mengaksesnya di tautan ini. Peta buatan Lauren Gardner memiliki alamat yang berawalan “gisanddata.” Secara tampilan pun, kedua peta tersebut memiliki perbedaan yang cukup mencolok.

Masih melansir dari The Next Web, metode peretasan menggunakan perangkat lunak berbahaya yang dikenal sebagai AZORult, yang pertama kali ditemukan pada tahun 2016. AZORult ini dibuat untuk mencuri data dari komputer para pengguna, kemudian menginfeksinya dengan malware lain juga. AZORult dapat mencuri informasi dari komputer seperti kata sandi dan cryptocurrency.

“Ini digunakan untuk mencuri riwayat penelusuran, cookie, ID atau kata sandi, cryptocurrency dan banyak lagi. Itu juga dapat mengunduh malware tambahan ke perangkat yang terinfeksi. AZORult umumnya dijual di forum bawah tanah Rusia untuk tujuan mengumpulkan data sensitif dari komputer yang terinfeksi,” ucap Shai Alfasi.


Loading...
Baca selengkapnya

Artikel terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close