Internet

Cuitannya Dianggap Sesat, Trump Ancam Tutup Twitter

Ketimbang menggunakan Facebook, para politisi lebih menyukai menggunakan Twitter. Mayoritas politisi menggunakan media sosial buatan Jack Dorsey tersebut, tak terkecuali Donald Trump yang saat ini menjabat sebagai Presiden Amerika Serikat.

Sebagai kepala negara, Trump tidak mau diatur atau masa bodoh dengan kebijakan yang ada di Twitter. Perusahaan pun juga belum memiliki nyali yang cukup untuk memberikan sikap tegas kepada Donald Trump.

Twitter Labeli Cuitan Trump Sesat

Trump terkenal cukup keras terhadap perusahaan-perusahaan teknologi yang ada di AS. Mayoritas perusahaan-perusahaan teknologi yang ada pun memilih untuk mengistimewakan Trump guna menjaga keberlangsungan bisnis mereka tetap aman alias terhindar dari regulasi yang ketat yang sewaktu-waktu bisa dikeluarkan oleh pemerintah.

Namun beberapa hari yang lalu, Twitter membuat sebuah gebrakan baru dengan memberanikan diri memasukkan cuitan Donald Trump ke dalam cuitan yang dianggap sesat atau cuitan yang tidak berdasar untuk pertama kalinya.

Cuitan Trump yang dilabeli sesat oleh Twitter adalah dua cuitan yang membahas tentang pemungutan suara di California. Dalam cuitannya, Trump menyampaikan bahwasanya pemungutan suara di California berpotensi mengalami kecurangan.

Trump mengatakan, siapapun yang tinggal di negara bagian itu, maka mereka akan dikirimi surat suara. Namun cuitan Trump itu dianggap tidak berdasar, karena kenyataannya para warga tetap bisa pergi ke bilik suara di mana mereka terdaftar.

Karena cuitannya tersebut, pihak Twitter pun memberikan label sesat. Pihak perusahaan juga meminta para pengguna yang melihat cuitan Trump tersebut untuk melakukan pengecekan fakta, dan Twitter sudah memberikan sebuah tautan ke CNN dan Washington Post terkait klaim Trump yang tak berdasar tersebut.

Trump Ancam Tutup Twitter

Akibat tindakan yang dilakukan oleh Twitter itu, Trump pun meradang. Presiden ke-45 AS tersebut akhirnya memberikan sebuah ancaman kepada Twitter, yang juga berlaku kepada perusahaan lain.

Trump mengatakan bahwa ia akan memperketat regulasi yang ada, atau bahkan tidak segan menutup perusahaan-perusahaan media sosial yang membungkam suara-suara konservatif di platformnya.

Menurut Trump, pengecekan fakta yang dilakukan oleh Twitter ini dianggap sebagai tindakan campur tangan pada pemilu tahun 2020. “Twitter benar-benar membatasi KEBEBASAN BERBICARA, dan saya, sebagai Presiden, tidak akan membiarkan hal itu terjadi,” tulis Trump.

Informasi saja, usul pemilu melalui surat suara digaungkan oleh CDC guna menghindarkan warga AS dari paparan COVID-19. Namun, usul tersebut hanya sebatas wacana saja, dan belum terealisasikan. Cuitan Trump yang mengatakan warga California akan dikirimi surat suara sendiri memang belum terbukti sehingga pengecekan fakta di Twitter menganggap cuitan Trump tersebut sesat dan tidak berdasar.

Baca juga: Donald Trump Perpanjang Sanksi Huawei Hingga Mei 2021

Trump memang dikenal sebagai presiden yang kontroversial. Di platform Twitter, ia memang kerap memposting sesuatu yang belum pasti akan kebenarannya. Sebelumnya, Twitter tidak berani mengambil tindakan atas aksi Trump. Namun kali ini, Twitter memberanikan diri dan ini merupakan tindakan pertama yang mereka lakukan.


Loading...
Baca selengkapnya

Artikel terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close