Berita Hoax

Sering ‘Kzl’ Dibohongi Oleh Berita Hoax? Coba Kenali Tanda-Tandanya Sebelum Kamu Stres Sampai ke Ubun-Ubun

Ada yang bilang, web viral itu sama saja dengan web berita hoax. Padahal, keduanya beda dan nggak bisa dibandingin apple-to-apple. Ibaratnya, itu sama saja seperti membandingkan antara sendok sama tomat. Beda jauh. Walaupun keduanya bisa bertemu di wadah yang sama : piring makan!

Nah, untuk kamu ketahui, web viral itu biasanya memberikan informasi terkini dan bermanfaat. Baik bagi rohani maupun jasmani. Maksudnya, konten viral itu menyehatkan, baik dari segi pengetahuan maupun hiburan.

Berbeda dengan web yang berisikan konten berita hoax. Biasanya mereka hanya mengejar target jumlah views yang banyak, tanpa peduli apakah beritanya itu bagus untuk pembaca atau tidak.

Yang penting judulnya mengundang keinginan untuk diklik. Syukur-syukur bisa langsung di-share ke teman-temannya.

Soalnya, tipikal pengguna media sosial di tanah air ini, cuma sebatas pembaca judul atau headline reader saja. Sehingga tanpa membuka link ataupun membaca benar-benar isinya, konten Hoax itupun akhirnya tersebar.

Bagaimana jika berita Hoax itu benar-benar bohong dan berbahaya – karena tidak terbukti secara ilmiah, namun dipercaya orang lewat link share yang kita bagi?

Duh, kan bahaya? Orang dapet duitnya, kita dapat dosanya.

Boleh saja kamu punya alibi, “Aku kan cuma nge-share?”. Tapi dosa tetaplah dosa. Karena kamu telah memberikan informasi yang menyesatkan.

Loading...

Nah, biar kita terhindar dari dosa konten hoax tadi, kita kenali yuk tanda-tandanya sebelum dishare:

1. Waspadai dua jenis konten berita Hoax

Berita Hoax
(Foto: blog.act.id)

Secara umum, ada dua jenis konten Hoax. Yakni, kategori berita dan non-berita. Keduanya, dengan kadar berbeda, mempunyai efek yang sangat buruk bagi kesehatan nalar kita. Untuk kategori berita, seringkali menyiarkan berita bohong, plintiran, gunting-potong berita sesuai selera dan cenderung bombastis. Bahaya dari jenis berita seperti ini adalah ancaman persatuan bangsa.

Sedangkan kategori non-berita, biasanya menyasar info-info sederhana namun dibuat ‘wah’. Gambar yang digunakan juga serampangan, asal sambung dan sebagainya.

Sebenarnya sih, untuk membuat konten-konten seperti ini sah-sah saja, asalkan ditunjang dengan narasumber / referensi yang benar. Tidak bohong serta tidak pula mengandai-andai.

Konten berita tipikal hoax biasanya tidak akan meninggalkan kesan bagi pembaca. Malah mereka cenderung kecewa karena telah dibohongi oleh judul berita bombastis, tapi isinya ternyata ‘garing’ atau angin doang.

2. Too Good to be true, Too Bad to be True

Berita Hoax
(Foto: makanbakso.com)

Satu hal yang perlu kita pahami adalah konten hoax senantiasa memanfaatkan celah di dalam nalar manusia yakni rasa penasaran. Sehingga akan menimbulkan pertanyaan, “Benarkah?”.

Di sinilah radar kewaspadaan musti dipasang untuk mencegah apakah konten web yang sampai ke kita itu hoax atau beneran.

Konten hoax itu terlalu bagus untuk jadi kenyataan atau terlalu jelek jika benar demikian.

Mungkin kita sering menjumpai, kalimat judul bombastis semisal : “Setelah Ratusan Tahun, Kita Tidak Tahu Bahwa Kangkung Berkhasiat Menyembuhkan Penyakit Panu!!! Sebarkan…”.

Biasanya juga, website penyebar berita Hoax tidak akan menampilkan sumbernya. Karena memang tidak ada. Yang mereka lakukan hanyalah mengandai-andai, “Kenapa ya pisang itu ada bintik-bintiknya?”, lalu mulai deh dicari alasan-alasannya. Ada sedikit “fakta” saja, mulai dibesar-besarkan dan disambung-sambung sesuai dengan keinginan penulisnya.

Referensi lain : Tidak Semua Hal Yang Ditulis Blogger Itu Selamanya Benar

3. Kenali websitenya

Berita Hoax
(Foto: dds.web.id)

“Siapa menentukan apa yang disampaikan.” Mungkin quote ini agak terbalik dengan ujaran yang selama ini kita dengar : “Lihatlah apa yang dikatakan, jangan lihat siapa yang mengatakan.”

Dalam kasus kita, sangat penting untuk melihat siapa yang menerbitkan tulisan itu. Kredibilitas web yang menyampaikan, menjadi taruhan kita untuk memastikan bahwa sumber konten berita tersebut.

Seringkali berita hoax menyebar melalui situs abal-abal, yang memanfaatkan domain gratisan. Namanya juga aneh-aneh. Misalkan, “beritaviralsebarkanya.blogspot.com”, “topikterkinidanhangat.blogspot.com”, atau “beritaislamsiangmalam.blogspot.com”.

Itu hanya contoh.

Tapi, tidak menutup kemungkinan juga, bagi mereka yang sedikit bermodal akan membeli domain TLD (semacam .com, .net ataupun .org). Tapi tetap saja diredirect ke hosting Google.

Jadi, jika ada berita yang sampai ke kita, namun sumbernya aneh dan tidak jelas. Maka, lebih baik coba di¬copy judulnya dan dicari ke website berita beneran. Misal, kata kuncinya “Republika.co.id : Ternyata Pisang Mempengaruhi Kecerdasan Anak”.

Ini misal ya.

Nah, jika tidak ada hasilnya, tinggalkan website alien itu segera, sebelum otak kamu tercemar. Jika pun ada, tetap tinggalkan saja dan lebih baik baca langsung di laman Republika itu. Lebih terpercaya karena biasanya ada narasumber/referensi ilmiah yang disertakan.

4. Judul bombastis, EYD banyak tidak pas

Berita Hoax
(Foto: Merdeka.com)

Yang namanya website abal-abal, tentu saja tidak punya waktu untuk mengecek ulang apa yang telah ditulis. Atau tidak punya uang untuk membayar editor. Atau juga bisa jadi sang “editor” tak punya kapasitas dan kapabilitas untuk menjadi seorang editor.

Mungkin saja.

Sehingga jangan heran, judul yang digunakan inginnya bombastis dan mengundang click bait. Namun, yang terjadi justru EYD-nya amburadul dan bikin sakit mata yang baca.

Belum lagi jika sudah masuk ke dalam isi. Wah, benar-benar hambar. Ibaratnya, ‘bumbu’ sudah dimasukkan semua ke dalam judul. Jadi terlihat sebagai berita yang “lezat” dan mengundang rasa “lapar” bagi naluri penasaran kita.

Wajar, jika kemudian bagian isi tinggal kuah saja. Nggak ada rasanya sama sekali alias hambar.

5. Judul Berita Normal Biasanya Datar-Datar Saja

Berita Hoax
(Foto: Kaskus.co.id)

Kamu boleh perhatikan judul-judul berita ataupun features yang ada di laman-laman website berita nasional. Judulnya normal dan cenderung datar. Meski begitu tetap menarik.

Kaidah dalam penulisan jurnalistik memang memberikan kesempatan untuk menampilkan judul yang mengundang orang akan membaca isi berita tersebut. Namun, tetap elegan untuk dibaca.

Nah, kalau sudah tahu suatu berita tidak benar alias hoax, jangan sok bijak lantas disebar-sebar. Baca saja belum, sudah kasih like lalu dishare.

Ayolah jadi netizen yang cerdas, pintar dan bebas dari dosa viral, gegara ikut-ikutan nyebarin link hoax. Bukan begitu? (*)



Loading...

Bagikan

Avatar

Penulis

Komentar

    Avatar

    Suami Bijak

    ( - 13:13)

    dalam hal ini, blogger dengan tulisan original yang diuntungkan. Tapi, sayang tulisan ala jurnalis belum banyak yang tau para blogger ori…

    Avatar

    Saliman Rofiq

    ( - 10:57)

    Sangat benar sekali.
    Hanya dari judul saja sudah kepancing, tanpa membaca isinya.
    Habis itu berdebat 🙁

      Avatar

      Pakdezaki

      ( - 11:56)

      Yupz, bener sakali Mas Rofiq.
      Belum apa-apa, udah maen share aja kek gitu.

    Avatar

    Adhikarta

    ( - 17:13)

    Yaa ini sesui keadaan dunia maya saat ini. Di beranda faceeeebok ku banyak banget yang share model begituan, ketika ak nasehatin malah dibilang kaf#r lahh apa lahh…
    Yawes aku unfollow aja hahahah…..
    Solitikkk marai mumet tenan mas,

      Avatar

      Pakdezaki

      ( - 22:26)

      Betul mas. Secara pribadi saya sering ‘tertipu’ dan akhirnya muak.
      Semoga tulisan ini bisa membuat kita semakin waspada.

        ganisebastian

        ganisebastian

        ( - 14:47)

        Good job pak de 😀

          Avatar

          Pakdezaki

          ( - 11:55)

          Terima kasih Bang Gani.
          Semoga tulisan ini bisa membantu dan memberikan pencerahan…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *