Tekno

Hobi Startup Itu Cuma Bakar Duit Saja, Benarkah?

Duh, Hobi Kok Bakar Duit?

Saat ini, keberadaan startup tidak bisa dipandang sebelah mata karena startup bisa menjelma menjadi raksasa ekonomi atau yang lebih tepatnya solusi ekonomi bagi sebuah negara di saat industri-industri konvensional tidak bertambah dari tahun ke tahun.

Kita ambil contoh Gojek. Perusahaan rintisan yang satu ini sudah berhasil menjelma sebagai raksasa ekonomi Indonesia. Bahkan gaung Gojek semakin meluas di berbagai layanan melalui fitur Go yang mereka miliki, seperti GoPay, GoClean, dan Go yang lainnya.

Namun, membuat startup itu tidak mudah, karena ketika sudah memutuskan untuk membuat startup, maka biaya yang dikeluarkan tidaklah sedikit. Kalaupun dana yang digunakan untuk menyokong startup itu kurang, maka yang namanya kerugian akan nampak begitu jelas di depan mata.

Hobi Startup Itu Cuma Bakar Duit?

Mengatakan startup hobi bakar duit terlalu ekstrem. Alasannya adalah banyaknya duit yang mereka keluarkan itu bukan untuk gaya-gayaan. Perusahaan rintisan harus berani membakar duitnya untuk berbagai macam keperluan, seperti promosi.

Jika tidak berani mengeluarkan uang untuk keperluan bisnisnya, dari mana startup bisa dikenal oleh publik? Lagipula untuk mencari investor yang berani menyuntikkan dana ke startup yang nantinya dana itu juga akan dibakar sebagian oleh startup juga tidak mudah.

Para investor pun ketika menyuntikkan dana ke startup amat sangat sadar jika uang yang mereka berikan itu akan digunakan untuk keperluan membangun startup atau bahasa ekstremnya dibakar. Jadi, apakah hobi startup itu suka bakar duit? Jawabannya benar. Namun bakar duit itu pun mereka lakukan untuk keperluan bisnisnya.

Baca juga: Startup Digital Indonesia Butuh Banyak Investor dan Dukungan Pemerintah

Peluang Sukses Startup Hanya 5%

Dilansir dari CNBC Indonesia, Menkominfo pernah mengatakan jika pemerintah tidak akan menerapkan aturan yang ketat bagi startup, karena pemerintah ingin mendorong startup untuk terus berkembang dan memaksimalkan potensi ekonomi digital.

Menkominfo juga mengatakan, saat ini regulasi yang dibuat pemerintah dalam mengatur startup hanyalah regulasi yang sifatnya ringan. Menurut Rudiantara, perizinan startup itu mencapai 30-an. Namun, pemerintah meringankannya menjadi menjadi 5 saja. Proses izin pun tergolong cepat di mana izin pagi hari, sorenya semua proses sudah selesai.

Selain itu, startup yang ada di Indonesia juga tidak perlu meminta izin dari Kominfo. Kenapa? Karena tingkat kesuksesan startup hanya 5 persen saja. Itu artinya, 95 persen startup tidak ada yang mampu bertahan. Oleh karena itu, amat sangat wajar apabila semuanya masih dimudahkan.

Baca juga: Musim Startup, Bagaimana Perkembangan Startup di Indonesia?

Intinya, pemerintah mendukung keberadaan startup, sekaligus menunggu mereka menjadi besar, karena ketika startup besar, keberadaannya akan mampu mengatasi masalah perekonomian bangsa. Saat ini sendiri, Indonesia menjadi salah satu negara yang memiliki jumlah startup terbanyak di dunia. Kurang lebih startup yang dimiliki negara Indonesia saat ini berjumlah 2000-an lebih.


Loading...
Baca selengkapnya

Artikel terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close