startup atau ukm

Lebih Ideal Startup atau UKM? Berikut 6 Hal yang Perlu Kamu Pertimbangkan Sebelum Memilih di Antara keduanya

Pilih startup Startup atau UKM? Dahulu bagi orang yang ingin merintis sebuah usaha, pasti memilih di antara UKM atau langsung usaha besar (perusahaan). UKM umumnya menjadi pilihan bagi para perintis usaha yang tidak memiliki modal besar. Namun perkembangan dunia hari ini memberi peluang bagi entrepeneur tak bermodal untuk melompat ke usaha besar dengan metode startup.

Saat ini pemerintah bekerja keras untuk terus menumbuhkan UKM dan startup Indonesia. Pertumbuhan 2 % jumlah UKM dan 1000 startup baru akan dikejar sampai tahun 2020. UKM dianggap pahlawan yang menyelamatkan ekonomi nasional saat dilanda krisis, sedangkan startup menjadi harapan baru dalam perkembangan dunia digital.

Keduanya banyak dibincangkan dan keduanya juga didukung oleh banyak stakeholder. Mungkin bagi kamu yang ingin merintis usaha, akan dibingungkan untuk memilih keduanya. Mana yang paling ideal, dan mana yang paling sesuai dengan kemampuanmu?

Untuk mengetahui jawabannya, dibawah ini adalah 6 hal yang perlu dipertimbangkan sebelum memilih startup atau UKM.

Modal dan Investasi

Diantara semua indikator pembeda, mungkin ini yang paling membedakan antara startup atau UKM. Besaran modal dan dari mana sumber modal itu berasal. Startup skala modalnya lebih besar karena mengejar pertumbuhan yang tinggi dan super cepat, sedangkan UKM umumnya tidak terlalu besar.

Jadi kalau kita tak punya modal besar apa tidak bisa merintis startup? Jangan khawatir, baik startup atau UKM umumnya sang pendiri tak harus berinvestasi dengan modal besar. Founder startup dengan ide briliannya bisa menggait investor (venture capital) untuk menggelontorkan dana besar.

Beda dengan UKM, seberapapun kemampuan pendiri, itulah modal dan investasinya. Bisa jadi pendiri  UKM menambah modal dengan utang usaha dan investasi dari rekanan, tetapi biasanya dengan skala tak terlalu besar.

Lalu mana yang ideal dan perlu kamu pilih? Kembali ke diri kita, apakah kita punya ide brilian bisnis model yang mampu menarik investasi besar? Kalau tidak, memulai dari UKM dan brootstrapping hingga menjadi perusahaan besar juga pilihan ideal.

Loading...

Visi Usaha

Apa visi kamu dalam mendirikan merintis usaha? Apa untuk survive mencukupi kebutuhan hidup? Apa ingin membangun usaha yang besar? Atau lebih hebat lagi ingin merubah dunia?

Jika yang pertama maka UKM pastinya. Kalau jawaban kedua bisa UKM ataupun startup. Khusus yang ketiga hanya bisa dilakukan startup.

Mayoritas UKM di Indonesia adalah tumpuan dan mata pencaharian pemiliknya. Dengan usaha tak terlalu beresiko, keuntungan pasti walau tak besar, perlahan UKM bisa menjelma menjadi perusahaan besar. Hal itu terjadi ketika margin keuntungan dan modal semakin besar, skala produksi meningkat, dan karyawan makin bertambah.

Sedangkan startup dari awal memang sudah di set up sebagai usaha besar. Yang berbeda besarnya startup tak diukur dari produksinya, tapi dari user yang menggunakan jasa, traffic, dan scalability-nya. Startup juga tak terlalu banyak membutuhkan tenaga kerja.

Founder startup tak hanya bermimpi untuk punya usaha besar, karena bahkan founder punya langkah exit strategy (keluar dari manajemen atau menjual saham) setelah startupnya bertumbuh besar dengan valuasi bisnis yang tinggi.

Mimpi founder startup selain meraih pundi-pundi adalah mengambil  bagian dari langkah perubahan dunia. Lihatlah Mark Zuckerberg yang menjadi bagian dari revolusi sosial media dengan Facebooknya.

Kompetensi dan Jejaringmu

startup atau ukm

Seperti kata Sun Tzu, “Kenali dirimu, kenali musuhmu, dan kenali medan tempurmu. Dan kau akan memenangi seribu pertempuran.” Persaingan usaha diibaratkan seperti  pertempuran, maka sebelum mengenal pesaingmu, kenalilah dengan baik dirimu sendiri.

Seperti apa dan seberapa kompentensi kita dalam mengelola usaha? Mulai dari segi leadership, manajerial, wawasan, dan ilmu pengetahuan. Kita ketahui bahwa dasar dari startup adalah ide dan bisnis model, dan keduanya hanya diciptakan oleh orang yang punya kompetensi mumpuni.

Investor akan memperhitungkan manajemen di balik startup apakah mampu atau tidak. Selain kompetensi, tak kalah penting adalah jejaring (network), karena mendirikan startup tak terlepas dari peran luar dan ekosistemnya. Tidak harus dari venture capital, investasi juga bisa didapat dari jejaring rekanan kita.

Unsur penting dalam ekosistem startup adalah teknologi informasi. Jadi kompetensi untuk memahami perkembangan teknologi informasi wajib dimiliki pendiri startup.

Bukan berarti pendiri UKM tak harus memiliki kompentensi, justru UKM bisa tumbuh besar karena pemiliknya berkompeten. Maka mengukur kompetensi dan network sembari meningkatkan keduanya adalah kunci keberhasilan dalam memulai usaha.

Bentuk Income Diinginkan?

startup atau ukm

Bagi kamu yang ingin menginginkan pendapatan (income) yang cepat dan stabil, UKM adalah jawabannya. Margin dari usaha berupa profit adalah tujuan dari UKM, jadi tak perlu menunggu lama sampai UKM bertumbuh untuk mendapatkan income.

Berbeda dari UKM, profit bukan jadi tujuan utama startup. Yang paling utama dari startup adalah meningkatkan traffic sehingga valuasi bisnis semakin tinggi. Setelah valuasi makin tinggi, kamu bisa mendapatkan jutaan dolar dengan menjual saham atau kepemilikan.

Di luar itu, pendiri UKM dan startup bisa jadi mendapatkan gaji dari statusnya sebagai top manajer, namun tentu selamanya seperti itu. Setelah menjual kepemilikan, banyak juga founder startup yang tetap dipercaya memimpin usahanya tersebut.

Pemanfaatan Teknologi Informasi

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, startup sangat bertumpu pada teknologi informasi. Pertumbuhan startup yang masif tergantung dari ekspansi dan inovasinya pada dunia teknologi informasi.

Sedang UKM tidak wajib menguasainya, terlebih pada UKM yang bergerak di bidang produksi. Teknologi informasi seperti internet dan sosial media memang sudah menjadi tren, semuanya memanfaatkannya termasuk juga UKM.

Tapi peran UKM hanya sebagai user di dalamnya, sedangkan startup adalah pemain utama yang terus berinovasi dan mengembangkan teknologi informasi.

Jadi pilihan apakah merintis startup atau UKM tergantung seberapa jauh kita akan berkecimpung dalam dunia teknologi informasi.

Baca : E-commerce Indonesia Bersaing di Dunia? Ini 6 Strategi E-commerce Bisa Masuk Pasar Global

Keberlanjutan Usaha

Berpikir lebih jauh lagi dari sekedar memulai, apakah usaha yang akan dirintis bila telah berhasil akan terus dipertahankan atau akan dilepas? Keduanya bisa terjadi pada UKM dan startup, tapi pada umumnya UKM yang berhasil akan terus dipertahankan sampai menua dan diwariskan.

Lain dengan startup, dari awal founder sudah menargetkan batas kapan usaha tersebut akan dilepas (exit strategy). Jika valuasi sudah mencapai target, founder akan melepas kepemilikannya untuk mendapatkan keuntungan besar. Setelahnya founder bisa terus bertahan atau merintis startup yang baru.

Bila bidang usaha tersebut adalah passion dari pendiri, dan ingin dipertahankan terus menerus, maka UKM adalah jawabannya. Sebaliknya jika bisnis model yang diciptakan founder startup adalah salah satu ide dari sekian banyak ide, maka merintis startup bisa jadi pilihan ideal.


Loading...

Bagikan

Avatar

Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *