Resiko Menulis artikel rewrite

Resiko Menulis Artikel Rewrite dan Dampak Buruknya Bagi Penulis

Hai semuanya! Seperti yang saya janjikan kemarin, bahwa pada pertemuan berikutnya saya akan membahas mengenai kelebihan dan kekurangan menulis artikel rewrite.

Namun sebelum itu, bagi Anda yang belum baca postingan kemarin, alangkah lebih baiknya untuk membaca terlebih dahulu Ciri-ciri Artikel Berkualitas Dan Cara Membuatnya.

Sebelumnya sempat saya singgung bahwa jika ingin membuat sebuah artikel berkualitas, maka Anda harus berhenti menulis artikel rewrite! Atau kalau tidak, maka Anda terus kesulitan untuk membuat artikel yang berkualitas.

Namun, meskipun saya bilang seperti itu, pada kenyataannya pasti banyak pihak yang menentang.

Karena, hampir semua blogger ataupun penulis laporan berita, semuanya adalah bersumber dari satu orang, yang kemudian di sebarkan lagi oleh orang lain dan di sebarkan lagi oleh orang lainnya lagi, begitupun seterusnya. Dengan kata lain, hampir semuanya rewrite.

Sebagai contohnya, misalkan Anda menemukan seekor monyet yang melahirkan anak macan. Anda melihat itu unik dan kemudian Anda ceritakan kepada teman Anda. Maka itu sama saja dengan Anda membuat artikel original yang berkualitas.

Tapi kemudian teman Anda menceritakannya lagi kepada orang lain, karena menurutnya itu menarik. Lalu orang lain pun menceritakannya lagi pada rekan-rekannya. Maka itu sudah dapat digambarkan seperti artikel rewrite.

Nah masalahnya, bagaimana caranya kita membedakan mana artikel rewrite, dan mana yang bukan artikel rewrite?

Loading...

Karena hampir setiap blog, mempunyai pembahasan yang sama. Tapi sebelum itu, pahami terlebih dahulu apa itu artikel rewrite?

Apa itu artikel rewrite?

Jika Anda pahami tulisan saya di atas, itu sudah cukup untuk menggambarkan apa itu artikel rewrite?

Tapi untuk lebih jelasnya, artikel rewrite itu merupakan artikel dimana sang penulis membuat artikel tersebut berpatokan pada artikel yang orang lain buat.

Sederhananya, artikel tersebut bukan asli pemikiran dari penulis tersebut.  Hanya saja, mereka membedakannya dari gaya tulisan yang di buat, namun urutan paragrafnya yang sama.

Apakah artikel rewrite sama dengan artikel copas?

Tentu beda! Karena kalau artikel copas, itu berarti si penulis hanya perlu menyalin artikel orang lain saja secara keseluruhan.

Tapi kalau menulis artikel rewrite, mereka hanya merubah beberapa kosa kata ataupun menambahkan sedikit bumbu dari artikel aslinya.

Seperti menambahkan ‘kesimpulan, paragraf pembuka, dan lain-lain’ yang menurut mereka itu pantas untuk ditambahkan. Namun seluruh isi artikel utamanya jelas-jelas mengutip dari artikel orang lain.

Oleh sebab itu, banyak artikel berita yang menaruh sumber asal berita tersebut. Agar para pembaca tahu kalau artikel yang di muat itu hanya berdasarkan ‘katanya’.

Jadi, kalau ada apa-apa mereka akan mengarahkan ke sumber asal berita tersebut.

Dengan kata lain, artikel berita itu kebanyakan rewrite dari portal berita yang lainnya. Sudah paham sejauh ini?

Tapi meski begitu, tidak selayaknya kita mengklaim bahwa semua artikel yang memiliki pembahasan sama, adalah hasil rewrite atau tulis ulang.

Karena pada kenyataannya, yang mampu menemukan suatu pembahasan bukan hanya satu orang saja. Seperti halnya artikel ini.

Coba saja Anda cari di Google dengan kata kunci ‘apa itu artikel rewrite’. Pasti akan ada banyak sekali artikel yang yang membahas mengenai cara membuat artikel rewrite ataupun cara menulis artikel rewrite.

Dan Anda akan kesulitan menemukan mana artikel yang hasil rewrite, dan mana yang hasil pemikiran sendiri.

Dan kalau Anda bertanya apakah artikel ini hasil rewrite atau bukan, maka saya katakan bukan! Alasannya sebagai berikut:

  • Hasil pemikiran sendiri.
  • Seluruh paragraf tidak berdasarkan artikel lain.
  • Tidak sama sekali melihat artikel orang lain.
  • Isi bisa dibandingkan dengan artikel yang ada di Google dengan pembahasan serupa.

Itu alasan yang bisa saya berikan untuk membela bahwa artikel ini bukan hasil rewrite, walaupun memiliki pembahasan yang sama.

Lalu, apa yang membedakan sebuah artikel hasil rewrite dan yang bukan hasil rewrite dalam satu pembahasan?

Perbedaan artikel rewrite dan bukan artikel rewrite

Anda mungkin sudah paham apa itu artikel rewrite dan bukan. Namun masalahnya, apa yang membedakan dari kedua artikel tersebut bila memiliki pembahasan yang sama?

Sebelum saya katakan perbedaannya, saya berikan dulu sedikit gambaran mengenai artikel bukan hasil rewrite, meskipun memiliki pembahasan yang sama dengan artikel lainnya.

Kita bisa ambil contoh cerita di atas, yang mana Anda melihat seekor monyet melahirkan anak macan. Namun ternyata bukan Anda saja yang melihat, ada teman Anda juga yang melihatnya.

Nah dalam kasus di atas, sudah dapat di pastikan Anda dan teman Anda merupakan narasumber mengenai penemuan tersebut.

Dan ketika Anda menceritakannya kepada orang lain, maka sudah pasti teman Anda juga akan menceritakannya juga.

Lalu, apakah penyampaian Anda dan teman Anda hasilnya akan sama? Tentu saja pasti beda, kan?

Bisa saja Anda menemukan monyet melahirkan anak macan itu berawal dari ingin mencari kelereng. Sedangkan teman Anda berawal dari di suruh beli cabe oleh ibunya.

Dan ketika di ceritakan kepada orang lain, pasti isi penyampaiannya pun akan berbeda, walaupun memiiki pembahasan yang sama.

Dengan kata lain, yang membedakan sebuah artikel rewrite dan yang bukan, adalah isi dari penyampaian tersebut, bukan dari tema pembahasannya. Sudah paham sejauh ini?

Namun sayangnya, meskipun kita dapat membedakan dari segi penyampainya, yang namanya manusia mempunyai kreatifitasnya masing-masing. Sehingga artikel rewrite pun terlihat seperti bukan artikel rewrite.

Nah, kalau Anda ingin menulis artikel rewrite yang berkualitas dan tidak seperti artikel rewrite, Anda bisa baca disini!

Itulah penjelasan mengenai apa itu artikel rewrite dan perbedaannya dengan artikel lainnya yang memiliki pembahasan sama.

Lalu, apa yang membuat kita tidak bisa menulis artikel berkualitas bila sering menulis artikel rewrite? Berikut penjelasannya.

Dampak Buruk Menulis Artikel Rewrite

Artikel rewrite memang merupakan cara ampuh untuk menciptakan sebuah artikel original yang banyak dalam waktu satu hari. Anda bisa membuat 5 sampai 10 artikel original atau lebih, bila menggunakan metode rewrite.

Meski begitu, kalau kita terus menulis artikel rewrite, itu akan berdampak buruk juga buat kreatifitas kita dalam membuat artikel yang berkualitas, walau kita bisa membuat artikel tersebut seperti asli dari pemikiran sendiri.

Hal ini dikarenakan, kita akan lebih bergantung dengan artikel orang lain, dibanding dengan artikel buatan sendiri dan hasil pemikiran sendiri.

Alasannya adalah karena membuat artikel rewrite itu jauh lebih mudah dibanding membuat artikel original hasil pemikiran sendiri.

Jika sudah seperti itu, maka pikiran kita akan menjadi ‘lebih baik menulis artikel rewrite saja, karena cukup mengubah beberapa kosa kata saja’.

Sedangkan untuk membuat artikel original pemikiran sendiri, kita harus berpikir ekstra mengenai bagaimana cara penyampaian yang menarik agar pembaca jadi betah bacanya, dan melakukan berbagai macam survey terkait tema artikel yang ingin di buat.

Membunuh kecerdasan otak dan kreatifitas

Itulah yang kadang membuat seorang penulis menjadi malas membuat artikel sendiri, dan akhirnya lebih memilih metode menulis artikel rewrite, karena memang mudah.

Kita cukup ganti beberapa kosa kata saja, tambahkan beberapa kalimat atau paragraf, dan jadilah artikel original.

Bukan hanya itu saja! Untuk membuat artikel original, kita perlu merasakan atau memahami apa yang ingin kita sampaikan itu. Dan itupun kadang masih saja tidak cukup.

Misalnya saya suka menonton anime, dan saya berniat menulis tentang anime yang saya tonton itu.

Meskipun saya tahu cerita dari anime tersebut dan paham mengenai ceritanya, bukan berarti saya bisa menyampaikan nya dengan mudah melalui artikel.

Alhasil, saya jadi melihat artikel orang lain, dan menulis ulang berdasarkan gaya bahasa saya sendiri.

Jika sudah seperti itu, maka bisa dikatakan kalau saya kecanduan rewrite artikel orang lain. Bukankah itu salah satu contoh dampak buruk dari artikel rewrite?

Dan yang lebih parahnya, apabila kita terus menulis artikel rewrite, maka secara perlahan itu akan membunuh kecerdasan otak serta kreatifitas kita.

Karena ya seperti yang saya katakan tadi, kita lebih bergantung dengan artikel orang lain, dibanding pemikiran kita sendiri. Dan lagipula, kita tidak perlu membuang banyak waktu.

Kesimpulan

Saran saya, jika ingin menulis artikel rewrite, buatlah di saat memang Anda lagi benar-benar kekurangan ide saja. Dan itupun jangan sampai berpatokan semuanya.

Pahami saja dulu isi artikelnya, dan kemudian tulis kembali berdasarkan gaya bahasa dan pemahaman kamu mengenai isi artikel tersebut.

Dengan begitu, walaupun kamu rewrite, maka kamu tetap bisa menjaga kreatifitas kamu sebagai penulis.

Dan yang penting, tetaplah terus membuat artikel original paling tidak sehari sekali, berdasarkan pemikiran orang diri sendiri. Maka itu juga akan membantu mempertahankan kreatifitas kamu.



Loading...

Bagikan

Ahaerudin13

Penulis

Komentar

    Avatar

    Mu Tmm

    ( - 12:04)

    Masuk, saya sependapat dengan saran Anda, rewrite memang sebaiknya dilakukan setika kita sudah kehabisan ide.

      Avatar

      Surya Candra

      ( - 14:45)

      semua nya pasti juga rewrite, namanya juga kehidupan pasti begitu

    Avatar

    Fuazan

    ( - 02:02)

    Tergantung niche apa yg mau dibahas, kalo niche berita ya itu2 aja. Kalo ttg entertain / info2 bisa deh buat gak rewrite. Ya banyak aspek sih

    Avatar

    Budi

    ( - 15:27)

    FULL teoritis aja, lihat daftar artikel anda yang lain, yakin bukan rewrite?.. bijak lagi aja pilih topik.. mungkin bagi yang baru belajar menulis, info seperti ini akan di dewakan, karena mereka masih naif…apa adanya saja tidak perlu teoritis, realistis aja…

    Avatar

    Helmi Arrazi

    ( - 08:22)

    Artikel yang bermanfaat. Jadi tahu, dan menambah istilah baru dalam dunia blogging. Terima kasih.

    Avatar

    Joko

    ( - 05:27)

    Mungkin coba minta tolong disebutkan satu saja hal yang original dari sekian banyak hal yang sudah ada,
    Mungkin sebagai penulis pun sebaiknya tidak perlu terlalu arogan memberi opini agar tidak menjadi boomerang sehingga terkesan munafik.
    Dan analogi yang tertera pun tidak sinkron dengan isi tulisan diatas

    Avatar

    IkeCong

    ( - 15:32)

    Idem dgn komentr di ats.
    Dan paling tdk bagus adl artikel yang panjang dan ulasannya bertele-tele…

    Avatar

    Ahh ga juga.. Penulisan ulang atau rewrite pada dasarnya ga beda dengan banyak hal lain di dunia ini. Ada baik dan buruknya. Menekankan bahwa rewrite akan mematikan kreatifitas seseorang juga tidak benar karena tetap akan tergantung pada individunya juga. Banyak penulis rewrite yang tetap bisa kreatif menghasilkan karya karya baru walau dia sering menulis yang sudah pernah ditulis dan seterusnya.

    Tapi saya maklum, penulis butuh sesuatu untuk didramatisir, dan apa yang mas tulis adalah salah satu bentuk mendramatisir sesuatu yang sebenarnya bukan masalah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *