Internet

PBB Tak Pakai WhatsApp, Komisi Uni Eropa Juga Tak Pakai

Pada 12 Februari 2020 kemarin, WhatsApp telah menorehkan sejarah baru di mana sudah berhasil menembus 2 miliar pengguna. Capaian WhatsAp ini memang luar biasa. Pasalnya, sampai saat ini belum ada aplikasi perpesanan yang berhasil menembus angka tersebut, kecuali mereka.

Sejak diakuisisi Facebook, pertumbuhan jumlah pengguna WhatsApp cukup mengesankan di mana pada tahun 2016 telah memiliki 1 miliar pengguna. Kemudian, di tahun 2018 jumlahnya kembali naik menjadi 1,5 miliar. Dan di tahun 2020 ini, atau yang tepatnya pada 12 Februari 2020 menjadi 2 miliar.

Baca juga: Fantastis, Pengguna WhatsApp Sudah Tembus 2 Miliar

Komisi Uni Eropa Tak Gunakan WhatsApp

Meski mendapatkan raihan yang positif, sekaligus fantastis, WhatsApp tidak digunakan oleh semua kalangan. Komisi Uni Eropa adalah salah satunya di mana mereka menganggap WhatsApp amat sangat tidak aman untuk digunakan sebagai alat komunikasi.

Ada banyak alasan mengapa Komisi Uni Eropa memilih untuk tidak menggunakan WhatsApp, dan alasan yang paling mencolok adalah WhatsApp rawan akan kebocoran. Pada Juni 2018 lalu, BuzzFeed News melaporkan bahwa kedutaan Uni Eropa di Moskow telah diretas dan datanya dicuri.

Dilansir dari The Verge, Selasa (3/3/2020), bukan hanya Komisi Eropa saja yang berhenti menggunakan WhatsApp, karena Desember 2019 lalu, Partai Konservatif Inggris juga sudah meminta anggota parlemennya untuk berhenti menggunakan layanan WhatsApp dan beralih ke layanan lain.

Baca juga: 7 Keunggulan Telegram Dibandingkan WhatsApp, Patut Diperhitungkan

Ini Aplikasi Pengganti WhatsApp

Masih melansir dari The Verge, Komisi Eropa telah memberitahu stafnya untuk beralih ke aplikasi perpesanan lain, yaitu Signal. Politico melaporkan bahwa awal Februari lalu, Komisi Eksekutif UE telah memilihkan Signal sebagai aplikasi yang direkomendasikan untuk perpesanan publik.

Meski merekomendasikan Signal, aplikasi perpesanan buatan Brian Acton itu tidak akan sepenuhnya digunakan untuk semua komunikasi. Untuk komunikasi yang sifatnya penting dan sensitif, pihak UE (Uni Eropa) akan menggunakan email yang terenkripsi.

Baca juga: WhatsApp, Telegram, Signal, Manakah yang Paling Oke?

Sama seperti UE, Partai Konservatif Inggris juga menyarankan anggota parlemennya untuk menggunakan Signal. Menurut mereka, Signal jauh lebih aman dalam melindungi data para penggunanya karena fitur end-to-end encryption Signal jauh lebih kuat dari WhatsApp.

Sebelum UE dan Partai Konservatif melarang anggotanya menggunakan WhatsApp, PBB sudah lebih dulu melarang para pejabatnya untuk menggunakan WhatsApp. “Pejabat resmi di PBB diinstruksikan untuk tidak menggunakan WhatsApp, ia tidak didukung sebagai sebuah mekanisme yang aman,” ucap Farhan Haq selaku Juru Bicara PBB.


Loading...
Baca selengkapnya

Artikel terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close