Tekno

Sedang Dicari! Startup Indonesia yang Tidak Bakar Duit

Bakar duit identik dengan startup. Bakar duit sendiri adalah aksi yang lumrah untuk dilakukan guna menunjang keberlangsungan bisnis dari perusahaan rintisan. Namun akhir-akhir ini, aksi bakar duit mulai mendapatkan stigma negatif.

Alasannya, aksi bakar duit dinilai tidak efektif untuk membesarkan bisnis startup. Pernyataan yang demikian itu mengacu dari WeWork. WeWork adalah salah satu unicorn dunia yang berpeluang menyabet gelar decacorn dan juga melakukan IPO (Initial Public Offering) dalam waktu dekat.

Namun gara-gara aksi bakar duit, startup yang bergerak di layanan berbagi ruang kantor itu justru terancam kebangkrutan. Diskon besar-besaran yang diberikan WeWork kepada para penggunanya justru menjadi awal petaka yang membuat perusahaan diambang kehancuran.

Namun, WeWork saat ini sudah bisa diselamatkan setelah investor utamanya, SoftBank, menggelontorkan dana ratusan juta dolar Amerika. Gara-gara kasus WeWork ini pula, beberapa investor mulai sedikit menahan pendanaan ke beberapa startup yang ada di dunia saat ini.

Intinya, para investor lebih berhati-hati ketika ingin berinvestasi di perusahaan rintisan yang levelnya sudah besar. Para investor saat ini semakin sadar jika status unicorn bukan sebuah jaminan startup itu akan sukses.

Hasilnya, beberapa investor pun lebih memilih untuk berinvestasi di perusahaan rintisan yang skalanya jauh lebih atau masih kecil yang peluang bakar duitnya masih sedikit.

Baca juga: WeWork Selamat dari Kebangkrutan, Alex Neumann Pun Ditendang

Dicari, Startup yang Tidak Bakar Duit

Beberapa hari yang lalu, Indonesia telah menggelar acara Next Indonesian Unicorn (NextICorn) International Summit 2019 di Jimbaran, Badung, Bali, selama 14 – 15 November 2019. NextICorn adalah acara yang mempertemukan para investor dengan perusahaan rintisan asal Indonesia.

Dalam acara tersebut, salah satu investor yang bernama Salim Group mengaku sudah menyiapkan dana investasi sebesar Rp7 miliar hingga Rp14 miliar untuk mengembangkan perusahaan rintisan.

Dilansir dari Kontan, Salim Group siap menggelontorkan dana untuk perusahaan rintisan level seed dan juga series A. Level seed dan Series A adalah pendanaan awal dari sebuah startup. Urutannya adalah level seed, kemudian baru Series A.

Baca juga: Mantan Menkominfo: RI Berpeluang Punya 3 Unicorn di Tahun 2020

“Sebagaimana yang lain, kami di sini berusaha mencari kolaborasi potensial dengan beberapa startup. Kami punya angle untuk fokus di startup teknologi, food, dan non-food, seperti edukasi, kecantikan, dan otomotif,” ungkap Edmund Carulli selaku Portfolio Manager Innovation Factory Salim Group seperti yang dikutip dari Kontan.

Ketika perusahaan rintisan masuk di level pendanaan seed dan Series A, maka perusahaan tersebut adalah perusahaan rintisan yang belum besar. Itu artinya, aksi bakar-bakar duit belum begitu banyak dilakukan.

Pihak Salim Group sendiri mengaku memang tidak ingin masuk ke startup yang menjalankan aksi bakar duit. “Dari awal kami tidak percaya startup yang membakar uang atau yang tumbuh cepat, kami cari yang pertumbuhannya lambat,” ucap Edmund Carulli.

Baca juga: Hobi Startup Itu Cuma Bakar Duit Saja, Benarkah?

Untuk Anda yang saat ini sedang menjalankan bisnis startup di bidang teknologi, food, dan non-food, tentu kabar ini adalah kabar yang menggembirakan karena perusahaan rintisan Anda berpeluang untuk mendapatkan suntikan dana dari Salim Group.


Loading...
Baca selengkapnya

Artikel terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close