Internet

Twitter Larang Iklan Politik, Bagaimana dengan Facebook?

31 Oktober kemarin, Jack Dorsey selaku CEO Twitter telah mengumumkan jika perusahaan yang ia pimpin akan menolak seluruh iklan yang berbau politik. Penolakan yang diumumkan Dorsey tersebut akan mulai berlaku pada 22 November mendatang.

“Kami telah membuat keputusan untuk menghentikan semua iklan politik di Twitter secara global. Kami percaya jangkauan pesan politik harus diperoleh, bukan dibeli,” tulis Jack Dorsey di akun Twitter resminya.

Alasan Twitter Larang Iklan Politik

Melalui fitur utas, Jack Dorsey menjelaskan beberapa alasan mengapa media sosial yang ia pimpin itu harus menolak keberadaan iklan politik. Kurang lebih terdapat 10 utas yang berisi alasan mengapa Twitter harus menolak iklan politik.

Berikut ini bunyi salah satu utas yang ditulis oleh Jack Dorsey:

“Pesan politik bisa tercapai ketika orang memutuskan untuk mengikuti akun atau me-retweet. Membayar untuk menghilangkan keputusan itu, memaksa pesan politik yang sangat dioptimalkan dan ditargetkan pada orang-orang. Kami percaya keputusan ini tidak boleh dikompromikan oleh uang.”

Keputusan yang diambil Jack Dorsey terkait iklan politik ini memang cukup berisiko, karena ketika mereka menolak iklan politik, pasti mereka tidak akan mendapatkan keuntungan. Padahal, di tahun 2018 kemarin, mereka berhasil meraup 3 juta dolar AS dari iklan politik.

Baca juga: Mengapa Politisi Sering Menggunakan Twitter? Inilah Jawabannya

Meski tahun lalu mendapatkan keuntungan yang lumayan dari iklan politik, media sosial berlambang burung itu nampaknya memikirkan dampak yang lebih luas lagi untuk ke depannya apabila mengizinkan iklan politik hadir di platformnya. Ned Segal selaku kepala keuangan Twitter mengatakan bahwasanya keputusan diambil bukan karena uang, melainkan karena prinsip.

Bagaimana dengan Facebook?

Jika Twitter secara terang-terangan menolak keberadaan iklan politik, maka hal yang demikian itu berbeda dengan Facebook di mana Mark Zuckerberg tetap ingin platformnya dijejali dengan keberadaan iklan politik.

Pada 17 Oktober kemarin, Zuckerberg memberikan pidato publik di mana ia memperjuangkan peran media sosial dalam memfasilitasi kebebasan berbicara yang dalam pandangan Zuckerberg memungkinkan para politisi untuk mengatakan apa pun di dalam iklan mereka.

Pidato publik Zuckerberg pada 17 Oktober kemarin sendiri dikritik oleh Jack Dorsey. Menurut CEO Twitter tersebut, Zuckerberg memiliki cacat yang besar dalam argumennya. Keputusan Zuckerberg untuk tetap membiarkan iklan politik di platformnya juga mendapatkan tentangan dari internal. Namun, Zuck hanya mengatakan jika Facebook membutuhkan uang.

Baca juga: Bisa Untung Besar, YouTube Sediakan Ruang Iklan untuk Politisi

Zuckerberg mengatakan, setidaknya iklan politik akan menyumbang 0,5 persen pendapatan untuk Facebook. Jadi, sudah sangat jelas sekali sikap dua media sosial terpopuler di dunia tersebut. Jika Twitter tidak mementingkan uang, maka Facebook justru sebaliknya, mereka membutuhkan uang untuk tetap menjaga keberlangsungan bisnisnya meskipun nantinya akan mendapatkan banyak kecaman.


Loading...
Baca selengkapnya

Artikel terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close