Tekno

Xiaomi Terkenal dengan Status Ponsel Ghoib, Ternyata Ini Penyebabnya

Xiaomi adalah salah satu merek smartphone yang banyak digunakan di Indonesia. Menurut laporan IDC di kuartal ketiga tahun 2019 ini, Xiaomi berhasil menduduki posisi kelima merek smartphone yang paling banyak digunakan di Indonesia.

Dalam laporan IDC, Xiaomi diketahui menguasai pangsa pasar ponsel di Indonesia dengan persentase sebesar 12,5 persen. Xiaomi hanya kalah tipis dari Realme yang berada di posisi keempat dengan raihan persentase sebesar 12,6 persen.

Baca juga: Realme, Penantang Baru di Dunia Smartphone yang Patut Diwaspadai

Canalys Tempatkan Xiaomi di Posisi Kedua

Tiap lembaga riset memang memiliki hasil yang berbeda-beda dalam penelitiannya. Dan hal yang demikian itu pun juga berlaku untuk kasus merek smartphone yang paling banyak digunakan di kuartal ketiga tahun 2019 ini.

Jika di kuartal ketiga tahun 2019 ini IDC menempatkan Xiaomi di posisi kelima, maka Canalys justru menempatkan Xiaomi di posisi kedua. Perusahaan ponsel pimpinan Lei Jun itu sukses bercokol di peringkat kedua usai meraih persentase sebesar 22 persen.

Xiaomi kalah tipis dari Oppo yang berada di peringkat pertama dengan raihan persentase sebesar 23 persen. Itu artinya, selisih Xiaomi dengan Oppo hanya 1 persen saja. Dengan demikian, peluang mereka untuk menggeser Oppo di kuartal selanjutnya pun sangat terbuka lebar.

Baca juga: Oppo dan Xiaomi Rajai Pasar Ponsel RI, Samsung Mulai Ditinggalkan?

Xiaomi Terkenal Sebagai Ponsel Ghoib

Ketika hasil riset yang dikeluarkan Canalys diumumkan ke publik, kebanyakan masyarakat Indonesia terkejut karena Xiaomi adalah merek ponsel yang ketersediaannya cukup sulit untuk dicari atau bahasa familiarnya adalah ghoib.

Bahkan sebagian ada yang berkomentar, jika Xiaomi yang ghoib saja bisa menduduki posisi kedua merek ponsel yang paling banyak digunakan di Indonesia versi Canalys, maka ketika ketersediaannya tidak sulit atau ghoib, pasti Xiaomi akan berada di posisi puncak.

Masalah ketersediaan stok memang menjadi masalah yang sering dialami oleh Xiaomi. Bahkan, masalah atau predikat ponsel ghoib yang melekat pada Xiaomi ini sudah terdengar ke telinga Alvin Tse selaku Country Director Xiaomi Indonesia.

Alasan Xiaomi Jadi Ponsel Ghoib

Alvin Tse menjelaskan beberapa alasan mengapa ponsel keluaran Xiaomi seringkali sulit ditemukan di pasar Indonesia, baik itu secara online maupun offline. Ada tiga alasan mengapa produk Xiaomi seolah-olah ghoib, dan berikut ini ketiga alasan tersebut.

1. Terdapat Proses “Ramp-up”

Proses ramp-up adalah proses peningkatan produksi yang dilakukan di Indonesia. Menurut Alvin, proses dimulai dari material smartphone yang dikirim dari China yang kemudian dikirimkan ke Indonesia.

Ketika material sudah sampai di Indonesia, ternyata pabrik yang ada di Indonesia tidak langsung melakukan perakitan. Namun, pabrik harus melatih karyawan terlebih dahulu dan melakukan serangkaian uji coba yang memakan waktu cukup lama.

“Di proses ini, biasanya benar-benar memakan waktu, karena akan banyak produk yang cacat,” ungkap Alvin Tse dalam acara temu media seperti yang dikutip dari Telset.

2. Diborong Pedagang

Masalah selanjutnya yang membuat Xiaomi seolah-olah ghoib adalah perangkat yang mereka jual via online diborong oleh dealer, retailer, dan lainnya. Hasilnya, end-user yang ingin membeli produk dari Xiaomi tidak kebagian.

“Kami ini perusahaan yang fokus ke online. Tapi, online di sini sangat rumit. Yang beli bukan hanya end-user saja, tapi ada dealer, retailer, dan lainnya,” ungkap Alvin.

“Si end-user kalah cepat membelinya, sehingga tidak dapat barang yang diinginkan. Jadi, itu yang membuat mereka merasa kami tak punya barang,” tambah Alvin.

Menurut Alvin, belum maksimalnya penjualan secara offline melalui Mi Store dan mitra juga memperparah keadaan di mana penjualan secara offline belum siap menyanggupi permintaan pasar yang begitu besar. Hasilnya, predikat Xiaomi sebagai ponsel ghoib yang ada di Indonesia semakin kuat.

3. Minat Pasar yang Tinggi

Terakhir, Alvin mengungkapkan jika besarnya minat pasar Indonesia terhadap produk Xiaomi sangatlah besar. Alvin mengatakan jika perusahaannya sudah menyediakan stok yang cukup besar untuk produknya.

Namun, jumlah yang besar itu ternyata masih belum cukup untuk menuruti permintaan pasar yang juga jauh lebih besar. Contoh yang paling nyata adalah Redmi Note 8 Series di mana Alvi mengatakan jika perusahaan menyediakan 125 ribu unit untuk bulan pertama.

Namun, jumlah tersebut ternyata masih belum mampu menampung minat pasar yang begitu besar. Kebanyakan produk-produk yang dikeluarkan Xiaomi selalu habis dalam penjualan online sehingga penjualan offline-nya pun tidak bisa terpenuhi.


Loading...
Baca selengkapnya

Artikel terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close