Bisnis OnlineDunia Internet

Setelah Unicorn Kini Ada Decacorn, Grab Jadi Pertama di Asia Tenggara

Arti istilah Unicorn Decacorn  – Debat Calon Presiden (Capres) kedua telah berlalu hampir tiga minggu. Namun gaung perdebatan masih meninggalkan viral di media sosial. Hal ini bermula tatkala Capres nomor 01 bertanya kepada Capres nomor 02 terkait infrastruktur apa yang akan dibangun untuk mendukung pertumbuhan Unicorn di Indonesia ?

Alih-alih langsung menjawab, Capres nomor urut 02 justru balik bertanya kepada Capres nomor 01 dengan kesan tidak paham dengan makna kata Unicorn dan mencoba menebak artinya dengan melempar pertanyaan “yang online-online itu ?”.

Sontak saja dunia maya langsung viral dengan kata Unicorn. Berbagai tanggapan, tudingan, postingan, dan meme-meme menggemaskan beredar luas menyentil kedua pasangan Capres tersebut.

Setelah viral dengan Unicorn, kini muncul lagi istilah Decacorn yang memiliki lompatan lebih tinggi dari Unicorn. Artinya, Decacorn ini jauh lebih berharga dari Unicorn.

Grab sebagai salah satu perusahaan layanan transportasi online asal Singapura ini mengklaim menjadi Decacorn pertama di Asia Tenggara.

Status Decacorn ini diumumkan melalui laman resmi perusahaan Grab. Grab menjelaskan, bahwa status sebelumnya Unicorn kini telah meningkat, karena telah memiliki nilai valuasi sekitar $ 11 miliar atau Rp 155,3 triliun.

Sebagai informasi, Decacorn merupakan status perusahaan dengan valuasi lebih dari $10 miliar. Sementara Hectocorn memiliki valuasi lebih dari $100 miliar.

Sebenarnya apa sih arti Unicorn dan Decacorn itu sendiri ? Berikut ini sekilas ulasan tentang Unicorn.

Loading...

Arti Kata Unicorn

Unicorn berasal dari Bahasa Latin “unus” dan “cornu” yang artinya “bertanduk satu. Unicorn merupakan hewan imajiner yang muncul dalam mitologi China, Mesopotamia, India dan Eropa. Biasanya digambarkan dalam wujud kuda putih dengan sebuah tanduk di tengah dahinya.

Kadang-kadang Unicorn juga diilustrasikan sebagai hewan mirip keledai berwarna putih dengan kepala ungu dan mata biru serta mempunyai tanduk satu di tengah dahi.

Tradisi China meyakini Unicorn merupakan salah satu hewan magis selain naga, kura-kura, dan burung phoenix. Unicorn dipercaya sebagai tanda keberuntungan dan merupakan isyarat akan peristiwa kelahiran atau kematian seseorang yang dianggap hebat atau berpengaruh.

Dalam Bahasa Ibrani, kata Unicorn dipakai untuk menginterpretasikan kata “re’em” sebagai hewan lembu.

Istilah Unicorn berasal dari catatan orang-orang Yunani yang berkunjung ke India pada sekitar 400 SM. Mereka menulis tentang seekor biatang liar yang mempunyai tanduk tunggal dan melawan gajah.

Unicorn Asal Indonesia

Lantas apakah kata Unicorn yang viral pasca debat Capres kedua itu merujuk pada pembahasan kuda putih  bertanduk satu ?

Tentu saja tidak. Unicorn yang menjadi pembahasan dalam debat Capres kedua merujuk pada istilah bisnis start up (rintisan) di Indonesia yang mempunyai nilai valuasi lebih dari $1M atau Rp 14,1 triliun.

Melansir kompas.com, istilah Unicorn dalam bisnis start up pertama kali dipublikasikan oleh Aileen Lee, seorang pemodal ventura dari Cowboy Ventures pada tahun 2013.

Lee menggunakan istilah Unicorn dalam sebuah artikel yang diterbitkan oleh Tech Crunch dengan judul “Welcome to the Unicorn Club: Learning From Billion-Dollar Startups”. Sejak saat itu kata Unicorn menjadi istilah baru bagi siapapun yang bekerja di industri teknologi.

Agaknya Lee menganggap bahwa kata Unicorn merupakan kata yang tepat untuk menggambarkan obsesi magis para start up yang berburu valuasi hingga milliaran dollar Amerika Serikat.

Di Indonesia sendiri terdapat perusahaan yang sudah berstatus Unicorn dan masuk dalam daftar 300 unicorn dunia yang memiliki nilai valuasi diatas $ 1 miliar.

Sesuai data Google Temasek 2018, Asia Tenggara memiliki 9 start up Unicorn dan 4 di antaranya dari Indonesia.

Unicorn yang berasal dari Indonesia adalah ride-hailing Gojek, e-commerce Tokopedia, layanan tiket online Traveloka, dan e-commerce Bukalapak.

Baca juga :#ReinstalBukalapak..#SaveBukalapak, Save Unicorn Anak Bangsa

Ilustrasi grafik start up Unicorn Indonesia

Gojek

Gojek merupakan perusahaan teknologi jasa transportasi berbasis internet yang menggunakan ojek dengan menawarkan berbagai layanan dan kenyamanan.

Gojek didirikan pada tahun 2011 oleh Nadiem Makarim, seorang pria Indonesia keturunan Pekalongan-Pasuruan kelahiran Singapura.

Pendirian Gojek berawal dari keprihatinan Nadiem terhadap tukang ojek di Jakarta. Menurutnya, sebagian besar tukang ojek di Jakarta sering menghabiskan waktu hanya untuk menunggu penumpang dan susahnya mencari pelanggan.

BacaNadiem Makarim, Dari Langganan Ojek Menjadi Pendiri Go-Jek

Selain itu juga, untuk membantu masyarakat Jakarta akan kebutuhan layanan pengantaran yang cepat dan tepat di tengah kondisi kemacetan yang makin memburuk saat itu.

Gojek mendudukkan diri sebagai Unicorn pertama dari Indonesia setelah mendapat suntikan dana dari senilai $550 juta dari konsorsium 8 investor yang digawangi oleh Sequoia Capital dan Warbrug kurang lebih enam tahun setelah berdirinya.

Ilustrasi Gojek. Foto : bbc.com

Kemudian pada tahun 4 Mei 2017 Gojek kembali memperoleh suntikan dana senilai $1,2 miliar dari Tencent Holding dan JD.com.

Tak hanya berhenti di situ, mengutip bbc.com, pada 14 Februari 2019 Gojek kembali mendapat kucuran dana dari PT. Astra International Tbk dan PT. Global Digital Niaga yang merupakan anak perusahaan Djarum Grup.

Total pendanaan yang diraih Gojek diperkirakan mencapai mencapai US$4 miliar atau lebih dari Rp53 triliun.

Traveloka

Traveloka merupakan perusahaan start up yang bergerak di bidang reservasi tiket online pesawat, kereta api dan bus, reservasi hotel, dan paket pariwisata.

Layanan Traveloka telah saat ini telah menjangkau Indonesia, Singapura, Malaysia, Thailand, Filipina dan Vietnam.

Traveloka didirikan pada Oktober 2012 oleh seorang pemuda kelahiran Padang Sumatera Barat, Ferry Unardi dibantu oleh dua orang rekannya, Derianto Kusuma dan Albert Zhang.

Ide berdirinya Traveloka sendiri berawal dari problem yang dialami oleh Ferry Unardi saat masih menempuh pendidikan di Purdue University Amerika Serikat.

Saat itu Ferry sering kesulitan reservasi tiket pesawat dari Amerika Serikat menuju Padang.

Ilustrasi Traveloka. Foto : bbc.com

Rute penerbangan dari Amerika Serikat hanya sampai Jakarta, sedangkan Jakarta Padang harus melanjutkan perjalanan lagi. Oleh karena masalah itu, Ferry Unardi kemudian merintis bisnis reservasi tiket online.

BacaKisah Ferry Unardi Sukses Membangun Traveloka

Seiring berjalannya waktu, Traveloka mengalami perkembangan pesat menjadi “penyedia layanan pariwisata online terdepan di Indonesia dan berekspansi sangat agresif di Asia Tenggara” hingga pada pertengahan tahun 2017.

Mengutip bbc.com, Traveloka dinobatkan sebagai Unicorn setelah mendapat suntikan dana dari perusahaan travel asal Amerika Serikat (AS) Expedia senilai US$350 juta atau sekitar Rp 4,6 triliun.

Tokopedia

Tokopedia merupakan perusahaan start up e-commerce tempat bertemunya penjual dan pembeli dari seluruh Indonesia dengan biaya gratis.

Tokopedia didirikan pada 6 Februari 2009 oleh pemuda kelahiran Pematang Siantar Sumatera Utara, William Tanuwijaya bersama rekannya, Leontinus Alpha Edison.

BacaKisah Sukses William Tanuwijaya : Mantan Penjaga Warnet yang Sukses Mendirikan E-Commerce Tokopedia

Selang enam bulan kemudian, tepat di hari kemerdekaan RI 17 Agustus 2009, Tokopedia diluncurkan ke publik setelah mendapat suntikan dana dari investor dan bos tempat William bekerja, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang pengembangan software computer.

Ilustrasi Tokopedia. Foto : bbc.com

Seiring dengan perkembangan perusahaan yang makin membaik, Tokopedia terus menerus mendapat suntikan dana dari berbagai investor, antara lain East Ventures tahun 2010, CyberAgent Venture di tahun 2011, Beenos di tahun 2012 dan Softbank pada tahun 2013.

Hingga tahun 2017 Tokopedia berhasil meraih start up Unicorn dengan nilai valuasi ditaksir hingga diatas 1,2 miliar dollar AS atau sekitar 14 trilun rupiah.

Melansir bbc.com, data yang bersumber dari Crunchbase mengungkap bahwa layanan online market place tersebut mempunyai valuasi senilai US$1,347 miliar.

Bukalapak

Sama seperti Tokopedia, Bukalapak juga merupakan start up e-commerce yang mempertemukan pedagang (pelapak) dan pembeli di seluruh Indonesia secara online dan gratis.

Bukalapak didirikan sekitar tahun 2010 oleh seorang pemuda lulusan Teknik Informatika ITB asal Sragen Jawa Tengah, Achmad Zaky.

BacaPendiri Bukalapak, Achmad Zaky dan Segudang Prestasi Lainnya

Berawal dari niat ingin membangun usaha yang memberikan manfaat besar bagi masyarakat, Zaky membuat e-commerce dan startup yang lebih fokus pada membantu pemasaran produk Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di Indonesia melalui internet.

Dengan pertumbuhan transaksi mencapai 3-4 kali lipat dibanding tahun sebelumnya, Bukalapak masuk dalam jajaran Unicorn di Indonesia pada akhir tahun 2017.

Masih melansir bbc.com, CEO Bukalapak Ahmad Zaky mengklaim, pengguna aktif bulanan Bukalapak pun menyentuh 35 juta, dengan jumlah pelapak mencapai 2,2 juta. Dengan demikian, sekitar 30% warga net Indonesia mengakses marketplace ini dalam sebulan.

Berikut ini beberapa perusahaan yang menanam saham di Bukalapak, antara lain Emtek (grup perusahaan media terbesar kedua di Indonesia), perusahaan ventura asal AS, 500 Startup dan QueensBridge Venture Partners.

Ilustrasi Bukalapak. Foto : bbc.com

Nilai valuasi Bukalapak saat ini mencapai lebih dari 1 miliar dollar AS atau sekitar 14 triliun rupiah.

Nah, akankah Unicorn Indonesia ini akan menyusul Grab yang saat ini sudah berstatus Decacorn? Mari kita dukung bersama 4 Unicorn anak bangsa.



Loading...

Baca selengkapnya

Untari

Konsultan Program KOTAKU # Training Specialist # Freelance Writer

Artikel terkait

2 Comments

  1. Moga nanti makin bagus dukungan dari pemerintah kepada para pengembang-pengembang start up lokal. Biar makin banyak start up indonesia yang menyandang gelar unicorn, bahkan decacorn.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *