Mengenal Gibran Rakabuming Raka, Anak Presiden yang Jualan Martabak

Saat ini siapa yang tidak mengenal Gibran Rakabuming Raka, putra orang nomor satu di Indonesia, Presiden Joko Widodo (Jokowi). Gibran biasa ia disapa, adalah seorang pemuda yang juga pengusaha kuliner dengan berbagai inspirasinya.

Semenjak Jokowi menang Pilpres tahun 2014 lalu, label anak presiden senantiasa melekat begitu saja di akhir namanya. Sematan tersebut tidak lain adalah ulah masyarakat Indonesia. Namun walau demikian, label tersebut tidak lantas menjadikan Gibran terbuai, dan kemudian dengan gampang meninggalkan dunia usaha kuliner yang dirintisnya dari nol.

Putra sulung pasangan Joko Widodo (Jokowi) dan Iriana ini semakin mantap menekuni usaha kulinernya sejak saat itu. Ia bahkan tidak melirik sedikitpun usaha-usaha karbitan yang bersentuhan langsung dengan pemerintahan. Gibran tidak menjadikannya sebagai lahan aji mumpung selagi ayahnya seorang Presiden. Namun memang harus diakui bahwa ketenaran Jokowi memiliki imbas besar terhadap ketenaran Gibran dan usahanya.

Lalu apa jadinya jika sang ayah tidaklah pernah menempati posisi sebagai Presiden seperti sekarang ini. Apakah nama Gibran Rakabuming Raka akan tetap tersohor seperti sekarang? Apakah juga bisnis kulinernya akan sesukses sekarang? Jawabannya akan kita dapatkan jika sedikit mengetahui perjalanan karir si putra sulung Presiden ini.

Gibran Rakabuming Raka, pria tampan asal Solo kelahiran 1 Oktober 1987 ini dulunya merupakan mahasiswa lulusan University of Technology Insearch, Sydney, Australia. Setelah lulus pada tahun 2010 dari kuliahnya, Gibran pun menetap seutuhnya di kampung asalnya, Solo. Saat itu, Gibran belum memiliki usaha seperti yang sekarang ini. Dan dari waktu tersebut, ia pun memulai perjalanan usahanya.

Pertama kali terjun ke dunia wirausaha, Gibran mencoba peruntungan langsung di dunia kuliner. Ide bisnis kulinernya ini digadang-gadang berawal dari langkanya penyedia catering. Ia sangatlah cerdik dan cerdas memanfaatkan peluang tersebut, karena bisnis kuliner hingga kini masih selalu menjadi primadona. Dan tentu saja ini merupakan bisnis yang sangat menggiurkan.

Suatu ketika, Gibran melihat Gedung Graha Saba Buana di Solo yang merupakan gedung pertemuan milik orang tuanya. Gedung itu biasa digunakan untuk acara-acara perayaan, seperti resepsi pernikahan. Gibran mulai mengamati dengan seksama peluang-peluang itu.

Hingga akhirnya ia menemukan sebuah celah, bahwa di gedung pertemuan tersebut dalam sekali resepsi, penyewa atau yang punya hajat paling banyak mengeluarkan uang untuk bagian konsumsi. Sehingga muncullah ide dari seorang Gibran untuk mendirikan usaha catering, Chili Pari namanya. Ini sebagai upaya untuk memenuhi kebutuhan penyewa gedung dalam keperluan resepsi.

Pada Desember 2010 Chili Pari pun resmi menjadi usaha anak sulung Presiden ini. Dalam memulai bisnisnya, Gibran Rakabuming Raka memikirkan hal yang paling utama untuk dipenuhi terlebih dahulu, salah satunya yaitu modal usaha.

Dalam hal ini, walaupun Gibran bisa meminjam atau meminta bantuan orang tuanya. Tetapi ia justru memilih untuk mandiri. Gibran lantas memilih untuk meminjam modal usaha dari Bank sebagai batu loncatan awal usahanya.

Namun perlu diketahui, bahwa sebelum terjun ke bisnis kuliner, Gibran juga sempat ditawari untuk meneruskan bisnis mebel (bisnis kayu) yang selama ini digeluti oleh Joko Widodo. Dan dengan tegas Gibran menolaknya, dengan alasan ingin memulai usahanya secara mandiri.

Di awal merintis usahanya, Gibran cukup memiliki kendala di permodalan. Modal yang ia pinjam dari Bank memberikan bunga yang cukup besar. Sehingga mau tidak mau ia pun harus berusaha keras agar catering Chili Pari yang dibuatnya mendulang untung besar sebagai jalan melunasi utang. Gibran pun memulainya dengan tekun dan pantang menyerah.

Belum juga sukses, bisnis kuliner yang digelutinya ini ternyata di awal juga diterpa ujian lain yang tidak kalah sulit selain bunga Bank. Makanan yang disajikan olehnya untuk pelanggan beberapa kali mengalami penolakan. Dan Gibran sering menceritakan bahwa akhirnya ia pun harus menghabiskan makanan tersebut sendiri agar tidak mubazir.

Dalam usahanya mengenalkan Chilli Pari kepada masyarakat. Gibran mempunyai cara tersendiri, ia mulai mempromosikan Chilli Pari melalui brosur yang ia bagikan sendiri kepada relasi terdekat untuk menjaring konsumen. Gibran juga aktif menyebar brosurnya ketika ada event-event besar di kota Solo. Selain itu, brosur Chilli Pari juga disebar ke sejumlah perkantoran.

Berkat kegigihannya dalam mempromosikan catering Chilli Pari, buahnya pun sedikit demi sedikit mulai terlihat. Catering Chilli Pari lambat laun mulai diserbu pelanggan yang cukup banyak secara bertahap. Salah satunya dimulai ketika ada Bank Solo yang mengadakan rapat dan membutuhkan konsumsi sejumlah 100 paket untuk seluruh peserta rapat.

Lalu lama-kelamaan pesanan meningkat menjadi 5.000 paket. Bahkan sering kali mencapai 40.000 paket catering hanya dalam kurun waktu sekitar sebulan.

Mulai sukses dengan usaha catering Chilli Pari. Gibran Rakabuming Raka tidak berhenti pada satu usaha bisnis kuliner. Ia kemudian mulai berinisiatif melebarkan sayap dengan berbisnis di event-event pernikahan. Ia mulai melirik bisnis percetakan undangan, rias pengantin, dokumentasi, dan pembuatan souvenir.

Untuk yang satu ini, per paketnya Ia biasa mematok harga sebesar Rp. 73.000.000,- untuk 1000 tamu. Paket tersebut sudah termasuk sewa gedung Graha Saba Buana.

Dengan ketekunan dan usaha yang sungguh-sungguh, akhirnya bisnis catering Chilli Pari dan beberapa bisnis percetakan serta souvenir lainnya mampu berdiri tegak. Dalam kurun waktu 3 bulan modal usahanya sudah bisa dikembalikan.

Dan tidak hanya itu saja, Gibran pun mampu mendirikan kantor sendiri. Sampai saat ini, bisnis catering Chilli Pari sudah cukup terkenal di seluruh penghujung kota Solo hingga melebar ke berbagai kota di Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Terhitung empat tahun sejak awal ia merintis usaha, utang kepada Bank yang semula dijadikan modal awal pun dapat dilunasi.

Awal Mula Bisnis Martabak Kota Barat (Markobar)

Gibran di salah satu kafe Markobar via liputan6.com

Catering Chilli Pari saat ini sudah ramai pelanggan, dan Gibran pun ingin kembali melebarkan sayap usahanya. Berbekal seorang relasi kerja, pria muda ini berinisiatif untuk menjalani bisnis martabak. Markobar namanya, alias Martabak Kota Barat. Markobar sebenarnya adalah brand yang dimiliki oleh relasi kerjanya tersebut. Ia merupakan generasi kedua pendiri Markobar sejak tahun 1996.

Dalam proses membesarkan nama Markobar, antara Gibran rekan kerjanya dibagi dua tugas utama. Dimana Gibran memegang penuh bagian pemasaran. Dan rekannya bertanggungjawab di produksi dan dapur. Sedangkan untuk modal dan hasil keuntungan dibagi dua sama rata.

Markobar sendiri biasa disajikan dengan berbagai macam tooping yang mampu membuat konsumen ketagihan dan ingin memakannya terus menerus. Ukuran yang disajikannya pun berbeda dengan martabak pada umumnya.

Jika martabak pada umumnya digulung lalu dipotong dengan bentuk kotak-kotak, maka markobar hadir dengan wujud yang lain. Markobar disajikan dengan ukuran yang jumbo layaknya pizza dan juga tidak digulung. Markobar dibiarkan berbentuk bulat dan hanya dipotong-potong seperti layaknya pizza.

Gibran Rakabuming Raka

Sumber : Lifestyle Liputan6

Setelah markobar sukses di Solo, Gibran Rakabuming Raka membawanya terbang ke luar kota. Ia kemudian membuka banyak cabang gerai di berbagai kota besar seperti Yogyakarta, Semarang, dan Jakarta. Harga yang diberikan untuk pelanggan dapat menikmati markobar satu jenis tooping sebesar Rp. 45.000,- saja. Sedangkan untuk delapan tooping dapat dibawa dengan harga Rp. 90.000,-.

Dalam berbisnis, Gibran memiliki tips usaha sendiri. Ia menargetkan agar modal dapat kembali dalam waktu tiga bulan setiap kali ia membuka gerai barunya. Targetnya tersebut bahkan cukup tepat, terbukti setiap dua bulan sekali ia mampu membuka gerai Markobar yang baru.

Baca juga : Baba Rafi, Produk Dalam Negeri Yang Menjajah Dunia

CS Coffee Shop

Selain Markobar, kerja sama bisnis dengan rekannya yang tadi juga terjalin sebagai mitra sebuah kedai kopi bernama CS Coffee Shop. Kedai kopi ini ada di beberapa kota seperti Solo, Yogyakarta dan Semarang. Setiap kedai CS Coffe Shop, lokasinya selalu berdampingan dengan gerai Markobar. Hal ini disebut Gibran agar lebih mudah dalam penegelolaannya.

Tidak berhenti di Chili Pari dan Markobar, ada lagi bisnis yang didirikan setelahnya. Bisnis tersebut masih tentang kuliner nusantara, yaitu ceker ayam bakar. Selain itu, Gibran Rakabuming Raka juga memiliki rencana untuk menggeluti dunia bisnis di bidang kuliner lainnya yakni pasta Buntel.

Saat ini, untuk Chili Pari sendiri untuk cateringnya setiap harinya bisa dipastikan ada pesanan baik untuk acara meeting maupun wisuda. Sedangkan untuk perlengkapan pernikahannya dalam sebulan ada sekitar 25 pesanan catering.

Sukses Tidak Untuk Sendiri

Usaha bisnis kuliner Gibran Rakabuming Raka yang sudah cukup banyak dengan berbagai jenis makanan, yang juga sudah tersebar di kota-kota besar Indonesia tidak menutup kemungkinan berdampak baik bagi lingkungan sekitar, khususnya pada ibu-ibu dan anak muda.

Gibran memanfaatkan ibu-ibu di lingkungan sekitar untuk bekerja padanya. Ibu-ibu biasanya oleh Gibran dipekerjakan di dapur untuk urusan makanan. Gibran mempekerjakan cukup banyak pembantu koki di dapurnya. Hal ini menjadikan ibu-ibu tidak hanya berdiam diri di rumah.

Sedangkan untuk anak muda biasanya oleh Gibran ditempatkan sebagai pelayan karena tamu yang cukup banyak di gerainya. Selain itu, ada juga anak muda yang ditempatkan di bagian kasir.

Dengan berbagai jenis usaha kulinernya yang sudah mapan. Dengan jumlah pekerja yang sudah cukup banyak pula. Sebagai pengusaha Gibran cukup tertutup terkait keuntungan. Walaupun ketika harus kita perkirakan, pastilah cukup besar. Gibran sangat enggan untuk menyebutkan keuntungan yang ia peroleh kepada umum. Jika ditanya maka ia hanya akan menjawabnya “rahasia”.

Usaha kuliner ini, yang sekarang sudah berjalan dengan sukses dengan beberapa cabang di berbagai kota besar di Indonesia, dulunya sempat diremehkan oleh sebagian orang. Banyak sekali yang mencemooh usahanya, ada yang mengatakan bahwa martabak yang ia jual adalah martabak kampungan. Ini ditengarai karena untuk modal usahanya didapat dari pinjam ke Bank.

Cemooh itu diketahui terlontarkan pada salah satu akun media sosial twitter Gibran. Namun, tentu saja Gibran tidak mempedulikannya sama sekali. Justru ia tetap semangat menjalankan bisnisnya hingga sekarang kini. Dan ternyata, sang adik Kaesang Pangarep menanggapinya dengan sebuah pernyataan bahwa kakaknya (Gibran) mampu kuliah di Singapura gara-gara ia berjualan martabak. Balasan dari Kaesang ini pun justru menjadi salah satu ajang promosi Markobar yang cukup ampuh. Karena dengan itu Markobar semakin ramai pembeli.

Gibran yang Tak Lagi Lajang

Di usia dan bisnisnya yang sudah dibilang mapan, putra sulung Jokowi ini memutuskan untuk menikah dengan seorang wanita cantik bernama Selvi Ananda. Bisnisnya telah mampu membawanya pada puncak kejayaan. Sampai-sampai suatu ketika Gibran dipanggil dalam acara “Who Want to be A Millionare Student” oleh Universitas Sahid Solo.

Ia dipanggil sebagai pembicara untuk menceritakan kesuksesannya dalam bisnis kuliner di hadapan ratusan mahasiswa yang sangat antusias menanti-nantikan kehadirannya.

Dalam acara tersebut tidak hanya menceritakan bisnisnya yang sukses akan tetapi Gibran juga memberikan motivasi, sharing bersama, proses usaha, dan inovasi kreatif bagi calon pengusaha muda. Dalam acara ini Gibran mengaku bisnisnya belum pernah dilaunching namun sudah dipromosikan melakui media sosial seperti instagram dan twitter.

Gibran juga mengaku mendapat keuntungan yang lumayan cukup besar dalam jangka waktu sehari atau dua hari, yaitu senilai Rp. 5.000.000,- hingga Rp. 6.000.000,-. Namun ia tidak menjelaskan secara rinci laba tersebut merupakan laba bersih atau masih ada laba kotor yang menyatu.

Di sisi lain Gibran yang memiliki banyak sekali bisnis ternyata memiliki target besar di balik semua usahanya itu. Gibran bersama teman mitranya telah membuat banyak sekali usana bisnis kuliner yang maju dan makmur. Usaha bisnisnya yang selalu dikembangkan dan menyabang di berbagai kota besar ternyata memiliki niat yang hebat. Ia memiliki rencana untuk menguasai Ibu kota dengan bisnis kulinernya.

Pelajaran yang Bisa Dipetik

Gibran Rakabuming Raka via kargoku.id

Kisah kesuksesan bisnis kuliner Gibran ini dapat menjadi inspirasi yang baik. Gibran memulai usaha di usia yang cukup muda. Masa mudanya ia gunakan dengan berbisnis kuliner tanpa harus meminta bantuan orang tua. Gelar ayahnya pun tidak membuatnya terlena untuk duduk manis menikmati hasil kerja ayahnya. Ia mencicipi dunia bisnis kuliner karena dia melihat peluang besar dalam bisnis tersebut yang akan meraup keuntungan besar.

Kecerdasannya dalam berbinis patut kita apresiasi karena di usianya yang tergolong masih muda ia mampu menjadi pembisnis sukses yang berhasil dan meraup keuntungan yang besar pula. Pemikirannya yang bagus telah membuka lapangan kerja bagi ibu-ibu dan anak muda di sekitar. Ini adalah salah satu contoh kepedulian terhadap lingkungan yang masih sangat jarang terpikirkan oleh para pengusaha.

Gibran sebagai pengusaha pada dasarnya tidak memanfaatkan gelar dalam meraih kesuksesan. Ia justru terjun di dunia yang sebagian besar orang tidak meliriknya ketika sudah memiliki gelar pendidikan tinggi. Kemudian Gibran pun mau berbagi pengalamannya dalam meraih kesuksesan dalam berbagai kesempatan. Ia sedikit banyak memberikan inovasi, motivasi terhadap anak-anak muda yang ingin menggeluti dunia bisnis seperti yang dilakukannya.

Kesuksesan memang tidak dapat di raih dengan instan. Semua butuh proses yang harus dijalani dengan penuh tanggung jawab, semangat dan ikhlas. Ketika ingin memulai bisnis, mungkin kita perlu memikirkan berbagai macam hal, termasuk memikirkan akan seperti apa bisnis kita. Kemudian juga, dalam mengelola bisnis akan seperti apa kita memberdayakan orang-orang di sekitar.

Karena tentu saja, sehebat apapun diri manusia, Ia sebenarnya tidak dapat sukses hanya seorang diri. Setiap manusia pasti dan selalu membutuhkan bantuan orang lain. Salah satu pelajaran yang dapat dipetik dari Gibran adalah bagaimana dia mampu menjadikan orang-orang disekitarnya sebagai partnership.

Teman kerja yang mau meraih kesuksesan bersama. Bukan hanya sekadar pekerja yang dibayar. Melainkan ketika mereka dianggap sebagai partner, maka kerja dan usaha bukan sebatas pada penghasilan uang yang melimpah, melainkan juga untuk dapat berbagi.

Itulah sedikit cerita tentang Gibran Rakabuming Raka, si anak presiden yang jualan martabak kampungan asal Solo, Jawa Tengah. Semoga kita semua terinspirasi.

Related Posts

About The Author

One Response

Add Comment