Dunia InternetUlasan Bisnis
Trending

Mitos dan Fakta Perilaku Karyawan Millenial di Dunia Kerja

Perilaku Karyawan Millenial

Perilaku Karyawan Millenial di Dunia Kerja. Kelompok generasi millenial diprediksi akan tumbuh menjadi kelompok generasi terbesar. Melansir Wikipedia, sebuah biro sensus di Amerika Serikat menyebutkan bahwa pada tahun 2014 populasi generasi millenial sudah mencapai 74,8 juta jiwa.

Diperkirakan pada 2015 jumlah populasinya akan meningkat sampai 75,3 juta jiwa dan menjadi kelompok generasi terbesar.

Sementara itu di Indonesia, memasuki era Revolusi Industri 4.0 saat ini, pertumbuhan jumlah karyawan millenial juga mengalami kenaikan yang cukup siginifikan.

Mengutip tulisan Hermawan Sutanto yang dimuat bisnis.com, jumlah karyawan millenial pada tahun 2017 tumbuh sebesar 45% dibandingkan dengan tahun 2010.

Tahun 2010 jumlah karyawan millenial sebanyak 28.293.971 bertambah menjadi 40.954.633 di tahun 2017. Jumlah karyawan millenial bahkan hampir menyamai jumlah karyawan Generasi X dan Baby Boomer.

Revolusi Industri 4.0

Sebelum membahas perilaku karyawan millenial, baiklah akan disampaikan sekilas tentang apa itu era Revolusi Industri 4.0 ? (baca : four poin zero).

Istilah Revolusi Industri 4.0 pertama kali diperkenalkan oleh Prof. Klaus Martin Schwab seorang teknisi dan ekonom Jerman yang juga pendiri Executive Chairman World Economic Forum, dalam bukunya The Fourth Industrial Revolution (2017).

Masih mengutip Wikipedia, Revolusi Industri 4.0 merupakan suatu revolusi dengan trend otomasi dan pertukaran data terkini dalam teknologi pabrik yang mencakup sistem siber-fisik, internet untuk segala, komputasi awan, dan komputasi kognitif.

Loading...

Menurut Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto, Revolusi Industri 4.0 ditandai dengan meningkatnya konektivitas,interaksi, dan batas antara manusia, mesin, dan sumber daya lainnya yang semakin konvergen melalui teknologi informasi dan komunikasi.

Revolusi Industri 4.0 merupakan perkembangan dari era revolusi industri sebelumnya. Revolusi Industri pertama ditandai oleh penggunaan mesin uap untuk menggantikan tenaga manusia dan hewan.

Kemudian, Revolusi Industri kedua, penerapan konsep produksi massal dan mulai dimanfaatkannya tenaga listrik. Dan, generasi ketiga, revolusi industri yang ditandai dengan penggunaan teknologi otomasi dalam kegiatan industri.

Baby Boomer, Generasi X dan Millenial

Perilaku Karyawan Millenial di Dunia Kerja

Baby Boomer, Generasi X dan Millenial merupakan istilah untuk menyebut kelompok generasi masa kelahiran. Istilah ini pertama kali dicetuskan oleh para pakar dan berbagai media pemberitaan internasional.

Istilah baby boomer digunakan untuk menyebut kelompok generasi yang lahir pasca Perang Dunia II, antara tahun 1946-1945. Berbagai literatur mengartikan baby boom sebagai ledakan bayi. Sebutan baby boomer menggambarkan kondisi pasca Perang Dunia II yang terjadi ledakan angka kelahiran bayi yang sangat tinggi.

Penamaan Generasi X diambil dari sebuah novel populer yang ditulis tahun 1991 oleh Douglas Coupland asal Kanada  berjudul “Generation X: Tales for An Accelerated Culture”. Generasi X atau sering disebut juga generasi baby busters, lahir antara tahun 1965-1980.

Label Generasi X atau baby busters mencerminkan kondisi demografi masa itu di mana tingkat kelahiran bayi jauh lebih rendah dibandingkan periode baby boomers. Makna baby busters merupakan makna yang berlawanan dengan baby boomer.

Millennials atau millenial adalah penyebutan bagi kelompok generasi yang lahir antara tahun 1981-1995. Kelompok generasi millenial juga sering dinamai dengan istilah Generasi Y.

Istilah millenial diambil dari buku yang berjudul “Millennials Rising : The Next Great Generation (2000)” yang ditulis oleh William Strauss dan Neil Howe, penemu teori generasi Strauss-Howe.

William Strauss dan Neil Howe menciptakan istilah millenial pada tahun 1987, di saat anak-anak yang lahir pada tahun 1982 masuk pra-sekolah, dan ketika itu media mulai menamai sebagai kelompok yang akan masuk ke dalam milenium baru pada saat mereka lulus SMA di tahun 2000.

Mitos dan Fakta Perilaku Karyawan Millenial di Dunia Kerja

 Perilaku Karyawan Millenial

Melihat fakta potensi jumlah dan karyawan millenial begitu besar, maka patut menjadi perhatian bagi perusahaan khususnya para manajer sumber daya manusia yang notabene akan menampung mereka memasuki dunia kerja.

Kaum millenial memiliki karakter sendiri yang unik dan berbeda dengan generasi sebelumnya. Keunikan kaum millenial juga dibawa dan melekat setelah mereka memasuki dunia kerja dan menjadi karyawan perusahaan.

Tak jarang keunikan tersebut menjadi sebuah mitos yang beredar di kalangan manajer sumber daya manusia. Mitos tersebut boleh jadi bukan suatu kebenaran fakta atau bahkan hanya sebuah prasangka saja, sebagai akibat dari belum memahami karakter unik karyawan millenial di dunia kerja.

Mengutip sebuah buku yang ditulis oleh Kevin E. Phillips berjudul Managing Millenials The Ultimate Handbook for Productivity, Profitability, and Professionalism (2019), berikut ini mitos dan fakta perilaku karyawan millenial di dunia kerja :

Pertama

Mitos

Millenial adalah karyawan yang malas dan tidak dapat diandalkan. Mitos ini muncul karena adanya anggapan bahwa karyawan millenial adalah anak-anak yang dimanja oleh orang tua sehingga mereka tidak tahu bagaimana harus bekerja keras, dan tidak bisa menghadapi dunia nyata.

Karyawan millenial terlalu banyak beban emosional, membelanjakan uang untuk hal-hal sepele, dan tidak mau melakukan upaya apa pun selain untuk diri mereka sendiri.

Fakta

Millenial memiliki hasrat, minat dan nilai yang tidak selaras dengan generasi sebelumnya. Mereka memiliki irama sendiri dan alur yang unik yang tidak selalu “dianggap benar” oleh orang lain.

Sayangnya, manajer dari generasi lain tidak selalu menghargai kenyataan ini dan justru menganggap karyawan millenial tidak sejalan dengan nilai-nilai, minat, dan hasrat yang mereka pegang teguh.

Millenial membawa satu set beban baru yang jauh melampaui apa yang biasa ditangani manajer biasa. Manajer tidak memodifikasi gaya manajemen mereka dengan tepat sehingga menyebabkan hasilnya kurang optimal dalam mengelola karyawan millenial.

Kedua

Mitos

Millenial tidak dapat mengikuti arahan dan tidak melihat pekerjaan mereka sebagai prioritas. Millenial dianggap sebagai karyawan yang sulit diatur dan tidak memprioritaskan pekerjaan.

Fakta

Dalam banyak hal, generasi millenial adalah generasi yang paling siap memasuki dunia kerja; mereka memiliki lebih banyak pendidikan, memiliki pengalaman yang lebih beragam, dan memiliki lebih banyak akses ke informasi daripada kelompok karyawan yang lain.

Karena itu, tidak mengherankan bahwa mereka selalu mengajukan pertanyaan, “mengapa?”. Pertanyaan kritis mereka inilah yang seringkali membuat millenial dianggap sebagai karyawan yang sulit diatur.

Keterampilan kognitif mereka berinovasi mencari cara yang lebih baik untuk menyelesaikan tugas dan mereka tidak puas dengan cara yang seperti biasanya dilakukan oleh orang-orang kebanyakan.

Selain itu, bagi millenial jam kerja merupakan sesuatu yang fleksibel. Hal ini karena mereka sangat mobile dan mampu bekerja di mana saja mereka memiliki koneksi internet.

Berbeda dengan untuk generasi sebelumnya yang sangat mementingkan karyawan untuk berada di kantor hari Senin hingga Jumat dari jam 9 pagi hingga jam 5 sore. Hal-hal seperti ini sulit dipahami oleh baby boomers dan beberapa anggota Generasi X.

Ketiga

Mitos

Millenial adalah karyawan dengan pemeliharaan tinggi atau bermasalah sebelum mereka pernah mendapatkan kesempatan untuk membuktikan diri. Mereka dianggap memiliki kebiasaan kerja yang kurang diinginkan perusahaan.

Fakta

Millenial adalah generasi baru karyawan yang memiliki potensi besar. Mereka memiliki ideologi dan preferensi yang berbeda yang tidak selaras dengan para pendahulunya (generasi sebelumnya).

Keempat

Mitos.

Millenial dicap manja, fokus pada diri sendiri, dan tidak tertarik untuk menunujkkan bekerja dengan sungguh-sungguh.

Fakta. Millenial membawa keterampilan, minat, dan kebiasaan kerja yang unik ke kantor. Keunikan mereka alih-alih diterima justru mereka dianggap tidak cocok dengan budaya kerja perusahaan yang telah terbentuk sebelumnya.

Baca jugaInilah 9 Perilaku Generasi Milenial Indonesia Menurut Hasil Penelitian

Saran bagi Perusahaan yang Mempekerjakan Karyawan Millenial

Melihat mitos dan fakta yang telah diuraikan di atas, barangkali beberapa saran berikut ini sangat berguna bagi perusahaan untuk mengoptimalkan potensi millenial :

  1. Para manager sumber daya manusia harus mulai menghargai perilaku karyawan millenial yang memang memiliki nilai-nilai, minat, dan hasrat  yang baru yang berbeda dengan generasi sebelumnya.
  2. Agar hasilnya optimal, para manager harus mulai berpikir untuk memodifikasi gaya manajemen dan pendekatan yang tepat untuk karyawan millenial yang disesuaikan dengan keunikan mereka.
  3. Memanfaatkan hal-hal yang mampu memotivasi millenial. Misalnya, sesekali memberikan dorongan energi dan melibatkan mereka dalam projek-projek tertentu. Millenial ingin bekerja keras untuk perusahaan yang ‘mengerti’ minat unik mereka.
  4. Bagi para manager perusahaan agar memperluas ideologi dan  mengubah pola pikir agar dapat menghasilkan produktivitas millenial yang berkelanjutan.

Kesimpulannnya adalah bahwa perusahaan (dan para pemimpin) harus merangkul perubahan yang dibawa para karyawan ini ke tempat kerja, memodifikasi pendekatan manajemen, dan memanfaatkan kekuatan yang dibawa oleh millenial ke kantor.



Loading...

Baca selengkapnya

Konsultan Program KOTAKU # Training Specialist # Freelance Writer

Artikel terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *