Kejamnya ibu tiri tak sekejam bahaya berita hoaks!
Begitulah kira-kira penggambaran bentuk hoax sekarang. Jika sebelumnya hoaks hanya dikenal sebagai berita bohong dengan tujuan untuk mendapatkan keuntungan recehan – ‘sebagai kegiatan iseng untuk bersenang-senang’ karena berhasil menipu orang dengan judul click bait dan isi yang tidak relevan.
Kini penyebaran berita hoaks – apalagi sering kita lihat di media massa atau sosial media, lebih sering berupa fitnah dan ditujukan untuk mematikan karakter seseorang – utamanya dalam bidang politik.
Penulis teringat dengan ujaran Menteri Propaganda Nazi, Paul Joseph Goebbels.
“Sebarkan kebohongan berulang-ulang kepada publik. Kebohongan yang diulang-ulang, akan membuat publik menjadi percaya” dan “Kebohongan yang paling besar ialah kebenaran yang diubah sedikit saja”.
Artinya, kebohongan yang dikemas kekinian bernama hoax, tidaklah timbul dengan sendirinya. Ia tidak alami. Ada tujuan yang hendak dibangun dari kabar burung di era digital tersebut.
5 Bahaya Berita Hoaks di Sosial Media
Nah, terkait dengan semakin kronisnya berita hoaks di negeri kita ini, ada baiknya kita mengetahui beberapa bahaya berita hoaks di sosial media jika kita termakan dengan isunya.
Baca : Ini Jalur Terbesar Penyebaran Konten Hoax di Media Sosial 2018
1. Hilang Akal Sehat
Hal pertama yang muncul sebagai bahaya berita hoaks adalah hilangnya akal sehat.
Orang cenderung tanpa reverse, saat menerima sebuah berita yang menurutnya sebuah kebenaran atau sesuai dengan keyakinan nilainya, dan langsung meneruskan begitu saja.
Tidak memberikan kesempatan lagi bagi nalar untuk berpikir sekedar menelaah informasi yang sampai kepadanya itu. Apakah memang benar demikian informasi tersebut, ataukah telah terjadi pemelintiran berita dan sebagainya.
Dan jangan salah. Soal termakan berita hoaks ini tidak memandang gender, kelompok atau strata sosial. Bahkan, seorang dosen berlatar belakang S3 pun bisa termakan mentah-mentah oleh berita hoaks ini.
Itulah bahaya berita hoaks yang bisa mematikan akal sehat.
2. Mudah Marah
Berita hoaks yang memang dirancang dengan tujuan tertentu, akan mudah membuat marah seseorang. Itulah goal jangka pendeknya.
Dan dari kemarahan tersebut, diharapkan bisa memberikan efek getuk tular yang cepat pula ditambah dengan narasi baru yang lebih meyakinkan.
Jadi, side effect yang ingin didulang sekaligus oleh pembuat berita hoaks adalah, sasarannya segera marah, memperoleh copyu writing yang lebih natural – karena disulut oleh kemarahan.
Dan yang ketiga, berita bohong produksinya itu cepat menyebar.
Semakin banyak kita diterpa berita bohong dan kita tidak memunculkan sikap skeptis pada saat menerimanya, maka akan semakin mudah kita marah.
Tentu saja, jika terus terjadi dalam jangka waktu cukup lama akan berpengaruh kepada kesehatan mental Anda, Pak Bos..
3. Menganggap kondisi lingkungan sudah tidak baik lagi
Dalam dunia psikologi, tak sedikit percobaan yang membuktikan bahwa, jika seseorang dikurung dalam satu tempat, dan kepadanya diberikan stimulasi negatif secara terus-menerus.
Maka objek percobaan tersebut akan menganggap bahwa stimulasi negatif itulah yang menjadi kebenaran dan dunia di luar sana tidak akan lebih baik atau bahkan lebih buruk dan menakutkan.
Begitu juga bagi kita yang ‘terkungkung’ oleh media sosial, kemudian terpapar berita hoaks terus-menerus dalam waktu yang intens, maka pada titik tertentu kita akan sampai pada kesimpulan bahwa dunia ini ternyata sudah tidak baik lagi.
Kita akan cenderung menarik diri dari lingkungan dan memilih untuk apatis, sebagai bentuk pertahanan diri.
4. Tidak bisa membedakan mana dunia nyata dan mana dunia maya
Tahun-tahun lalu, sempat dihebohkan dengan kedatangan gadget berteknologi Augmented Reality atau Virtual Reality. Kenyataannya, sebelum kemunculan gadget AR/VR ini, di jagat sosial media sudah telah dikenal duluan apa yang disebut sebagai Hyper Reality.
Apa itu hyper reality? Yakni, suatu kondisi yang muncul dalam persepsi seseorang – dalam hal ini netizen, bahwa kehidupan dalam sosial media, apa yang dilihat di laman gadget, itulah kenyataan yang sebenarnya.
Akibatnya sudah jelas, dalam kondisi seperti ini, mereka kehilangan orientasi. Sulit membedakan, mana yang nyata, mana yang maya.
Apalagi jika dihantam dengan berita hoaks, seperti yang disebutkan dalam poin ketiga.
Sudah pasti, mereka akan mempercayai ‘fakta’ yang dibawa oleh berita hoaks dalam lini masa media sosial mereka. Ketimbang mendengarkan saran dan nasihat dari sahabatnya.
5. Putus Persahabatan
Sebagai konsekuensi dari poin keempat di atas, maka hubungan pertemanan akan retak. Dimulai dari unfollow dunia maya, berlanjut ke blokir di dunia nyata.
Sungguh nggak asyik, gara-gara berita hoaks, lalu memicu perbedaan pendapat dan meruncing menjadi perdebatan sahabat.
Itulah bahanyanya jika kita termakan bahaya hoaks. Jika sudah seperti ini, lebih baik kita nyanyi bersama-sama lagu Bang Haji Rhoma Irama : T-E-R-L-A-L-U. (*)
Komentar
Loading…