Membaca Kisah Pendiri BRI, Bank Pertama yang Dimiliki Indonesia

Kisah pendiri BRI mungkin saja tidak setenar nama Bank-nya saat ini. Karena hampir sebagian besar warga negara Indonesia, mulai dari yang muda sampai yang tua bisa dipastikan tahu dengan Bank BRI. Bank yang sudah sangat merakyat hingga cabang dan unitnya hampir ada di seluruh pelosok negeri.

Bahkan diantara mereka yang tahu tersebut mungkin adalah nasabah setianya. Namun apa jadinya jika mereka ditanya, siapakah pendiri Bank BRI? Hampir bisa dipastikan pula mereka akan menggelengkan kepala.

Perlu kita ketahui, Bank BRI adalah salah satu Bank yang merupakan bagian dari BUMN Indonesia saat ini di bawah PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, dan merupakan bank pertama yang dimiliki Indonesia. Pendiri sekaligus perintisnya adalah Raden Bei Aria Wirjaatmaja, seorang Patih di kota Purwokerto.

Menilik sejarah, membicarakan seorang Raden Bei Aria Wirjaatmaja dan membaca kisahnya, kita akan digiring kepada sederetan kenangan tentang kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Hal ini dikarenakan Raden Bei Aria Wirjaatmaja adalah salah satu dari pahlawan republik ini yang berjuang di bidang ekonomi. Namun saat ini namanya hampir dikesampingkan.

Kisah Raden Bei Aria Wirjaatmadja, Pahlawan yang Terlewat

Kisah Pendiri BRI

Patung Raden Bei Aria Wirjaatmadja di Museum BRI Purwokerto via mapio.net

Sebutan pahlawan biasanya disematkan pada seseorang yang telah berjuang dengan menumpahkan keringat dan darahnya untuk memperjuangkan tanah air. Mereka rela mati demi mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia tercinta walaupun nyawa menjadi taruhan.

Banyak pahlawan yang sudah gugur yang kini namanya telah menggoreskan wewangian di batu nisan dan menyisakan sebuah kisah legenda. Kisah itu merupakan cerita yang bisa diambil hikmahnya dalam perjuangan di masa hidupnya silam.

Orang-orang sangat bahagia karena negara telah bebas dari jajahan dan tentunya negara menjadi berkembang setelah itu. Maka dibuatlah sebuah taman untuk mengenang jasa-jasa pahlawan selama masa penjajahan yang telah banyak berkorban.

Taman tersebut tentu sangat dirawat dan dijaga dengan baik oleh si empunya. Taman tersebut berisikan makam-makam pahlawan yang telah mati memperjuangkan NKRI, dimana masyarakat lebih akrab dikenalkan dengan nama Taman Makam Pahlawan. Disanalah para pahlawan bersemayam.

Negara mungkin saja tidak memiliki cahaya dan akan selalu kelam dalam gelapnya penindasan para penjajah, jika pahlawan-pahlawan tersebut tidak ada. Seiring terkikisnya waktu semakin terkikis pula kesadaran mereka akan perjuangan para pahlawan.

Jiwa nasionalisme mereka mulai tertelan dengan dunia yang terhanyut modernism. Orang-orang mulai tidak peduli dengan sejarah dan bangsa. Walaupun sudah dibuat berbagai macam cara untuk mengingatkan orang-orang namun mereka mulai acuh tak acuh dengan itu semua.

Pahlawan yang jelas masih tetap diingat oleh kebanyakan orang seperti Ir. Soekarno dan Moh. Hatta. Semua orang pasti sangatlah tidak asing dengan nama dan perjuangan beliau memerdekakan Indonesia sebagai Presiden dan wakil Presiden pertama Indonesia.

Ada lagi Bung Tomo, R.A Kartini, Ki Hajar Dewantara, Tuan Patimura dan banyak lagi yang tidak dapat disebutkan satu persatu. Namun dari beberapa pahlawan tersebut apakah ada yang tahu dengan nama pahlawan bernama Raden Bei Aria Wirjaatmaja? Mungkin saja terdengar cukup asing di telinga, padahal Ia pantas mendapatkan gelar tersebut.

Perjalanan Sang Pendiri

Raden Bei Aria Wirjaatmaja memang tidak atau belum dilabeli sebagai pahlawan oleh pemerintah. Namun Ia merupakan orang yang memiliki jasa besar bagi bangsa ini. Jika melihat banyak manusia modern melakukan transaksi uang berupa transfer atau menabung di Bank, maka Raden Bei Aria Wirjaatmaja adalah pelopornya di Indonesia.

Pria yang bergelar Patih kelahiran Adireja (nama ibu kota Banyumas waktu itu) pada 1831 ini, ketika menginjak usia 21 tahun mulai menapaki perjalanan hidupnya dengan menjadi seorang juru tulis kontrolir Belanda di kota kecil Banjarnegara, selama kuarang lebih 2 tahun lamanya.

Kemudian setelah itu Raden Bei beralih menjadi Mantri Polisi di Bawang, distrik Singamerta selama kurang lebih 9 tahun.

Pada tahun 1863 Ia kemudian diangkat menjadi Wakil Wedana Batur, Banjarnegara dan menjabat selama 3 tahun. Setelahnya pangkatnya dinaikan menjadi Wedana Definit Batur, di kota Banjarnegara pada 3 Agustus 1886. Kisah hidupnya terus berjalan hingga akhirnya Ia menjabat sebagai seorang Patih di kota Purwokerto pada 1879. Jabatan tersebut dipegangnya sampai masa kerjanya berakhir dan pensiun pada tahun 1907.

Raden Bei Aria Wirjaatmaja adalah tipikal orang yang tekun dalam pengabdiannya selama menjabat di berbagai posisi. Hingga akhirnya Belanda memberikan sebuah penghargaan Bintang Gele Medalile atau medali emas di tahun 1891.

Selain itu, Ia juga mendapat berbagai gelar lainnya yang kemudian disematkan berkat pengabdiannya, mulai dari Rangga hingga gelar Aria di 1902. Kesemua penghargaan tersebut diberikan apabila seseorang sudah bekerja dan mengabdi kepada Belanda selama 50 tahun lamanya. Semenjak itu Raden Bei Aria Wirjaatmaja mulai terkenal dengan sebutan Patih di Purwokerto.

Asal Muasal Bank Rakyat Indonesia (BRI)

Ada sebuah cerita sejarah yang menyebutkan bahwa sebelum Raden Bei Aria Wirjaatmadja pensiun, Ia pernah menghadiri sebuah undangan pesta di tahun 1894 dalam rangka merayakan sebuah hari besar. Perayaan yang Ia dihadiri tersebut ternyata menghabiskan dana yang cukup besar, yang tentu saja dikeluarkan dari kantong tuan rumah penyelenggara.

Raden Bei Aria Wirjaatmadja kemudian merasa terheran-heran dengan pesta yang sangat meriah tersebut. Keheranannya tidak berhenti sampai di situ saja, namun ia mulai menyelidiki darimana pesta semegah itu dapat digelar oleh si tuan rumah. Tak disangka tuan rumah ternyata membuat pesta mewah tersebut dari hasil utang kepada renternir.

Hutang tersebut tidak main-main nominalnya dan tentu dengan tingkat bunga yang tidak main-main pula. Dari situ kemudian Ia mulai berpikir dan terbesit dalam hatinya untuk mendirikan sebuah Bank yang dapat membantu mereka yang membutuhkan dana dengan memberikan pinjaman berbunga rendah.

Sampai akhirnya pada 16 Desember tahun 1895 kisah pendiri BRI ini dimulai. Raden Bei Aria Wirjaatmadja mendirikan De Poerwokertosche Hulp en Spaarbank der Inlandsche Hoofden atau “”Bank Bantuan dan Simpanan Milik Kaum Priyayi Purwokerto” di Purwokerto, Jawa Tengah.

Ini adalah suatu lembaga keuangan yang dimaksudkan Raden Bei Wirjaatmadja untuk melayani orang-orang berkebangsaan Indonesia (pribumi). Walaupun pada saat pertama didirikan belum menggunakan nama Bank Rakyat Indonesia (BRI), namun tanggal pendirian bank tersebut dijadikan hari lahirnya BRI.

Dan kemudian setelah beroperasi dan melayani banyak nasabahnya,  De Poerwokertosche Hulp en Spaarbank der Inlandsche Hoofden setelah kemerdekaan Indonesia diproklamirkan pada tahun 1945. Pemerintah melalui Peraturan Pemerintah No. 1 tahun 1946 Pasal 1 menyatakan bahwa BRI menjadi Bank pemerintah pertama di Indonesia ini.

Lika-Liku Status BRI di Pemerintahan

Setelah dua tahun penetapan BRI, Indonesia masih belum bisa menstabilkan kondisi negara dan masih harus berperang untuk mempertahankan kemerdekaan. Akibarnya pada tahun 1948 kegiatan BRI sempat dihentikan untuk sementara waktu. Baru kemudian setelah perjanjian Renville pada tahun 1949 Bank tersebut diaktifkan kembali dengan nama Bank Rakyat Indonesia Serikat.

Pada tahun 1960 pemerintah kemudian membentuk Bank Koperasi Tani dan Nelayan (BKTN) atau Bank Tani Nelayan dan Nederlandsche Maatschappij (NHM) yang merupakan peleburan dari BRI. Pembentukan tersebut didasarkan PERPU No. 41 tahun 1960. Dan lima tahun berselang berdasarkan Penetapan Presiden (Penpres) No. 9 tahun 1965, BKTN kemudian diintegrasikan ke dalam Bank Indonesia dengan nama Bank Indonesia Urusan Koperasi Tani dan Nelayan.

Namun Bank Indonesia Urusan Koperasi Tani dan Nelayan hanya bertahan selama satu bulan saja. Pemerintah kemudian mengeluarkan kembali regulasi tentang pembentukan bank tunggal dengan nama Bank Negara Indonesia.

Hal itu didasarkan pada Penpres No. 17 tahun 1965. Tentu saja regulasi ini menjadikan Bank Indonesia Urusan Koperasi, Tani dan Nelayan (eks BKTN) berubah lagi posisisnya, dimana diintegrasikan dengan nama Bank Negara Indonesia unit II bidang Rural. Sedangkan NHM diubah menjadi Bank Negara Indonesia unit II bidang Ekspor Impor (Exim).

Setelah gonjang-ganjing tersebut, pada tahun 1968 berdasarkan Undang-undang No. 21 tahun 1968 menetapkan kembali BRI menjadi bank umum sekaligus mengembalikan fungsi dan tugas-tugas pokoknya. Regulasi ini didahului dengan mengembalikan fungsi Bank Indonesia sebagai Bank Sentral sebagaimana Undang-Undang No. 14 tahun 1967 tentang Undang-undang Pokok Perbankan dan Undang-undang No. 13 tahun 1968 tentang Undang-undang Bank Sentral.

Hal ini kemudian menjadikan Bank Negara Indonesia Unit II Bidang Rular dan Ekspor Impor dipisah menjadi dua Bank. Masing-masing yaitu BRI dan Bank Ekspor Impor Indonesia.

Lika-liku status BRI di pemerintahan terus berjalan sampai kemudian saat ini menjadi perusahaan publik dengan nama PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Dimana porsi sahamnya 30% umum dan 70% atas nama pemerintah.

Mengabadikan Kisah Pendiri BRI

Kisah Pendiri BRI

Museum Bank BRI via banjoemas.com

Seperti yang sudah disinggung sebelumnya, orang-orang yang hidup setelah masa para pahlawan memiliki berbagai cara untuk tetap mempertahankan kisah para pahlawannya. Tentu salah satunya adalah kisah pendiri BRI, Raden Bei Aria Wirjaatmadja yang juga dipertahankan, diabadikan. Walaupun tidak banyak memang orang yang menceritakannya. Namun setidaknya mereka masih tetap harum namanya hingga saat ini.

Banyak cara dilakukan untuk mengenang kisah pahlawan seperti kisah pendiri BRI, diantaranya yaitu dibuatkannya monumen untuk mengenang perjuangan para pahlawan. Ada juga seperti yang sering kita jumpai jalan yang diberi nama pahlawan. Bahkan pemerintah sering menjadikan gambar para pahlawan untuk dicetak di atas lembaran dan koin mata uang negara.

Jika ingin lebih dekat dengan kisah pendiri BRI. Boleh untuk sesekali berkunjung ke Museum BRI yang berada di Purwokerto-Banyumas. Museum ini dijadikan satu dengan gedung BRI cabang Wirjaatmaja Purwokerto. Memang jika kita melihat gedung tersebut tampak tidak ada hal yang lebih istimewa daripada patung dari sosok Raden Bei Aria Wirjaatmaja Ambtenaren dihalaman depan.

Saat pertama memasuki museum kisah pendiri BRI ini kita akan disambut dengan Kurewa yang menurut kepercayaan Hindu merupakan Dewa Kemakmuran. Museum ini berisi berbagai macam koleksi peninggalan sejarah dari jaman Majapahit berupa uang-uang kertas dan logam.

Uang tersebut dinamakan uang dobog. Selain itu, ada juga uang logam dan kertas dari peninggalan jaman VOC, uang kertas masa penjajahan kolonial Jepang, mata uang Portugis, serta mata uang Indonesia dari sejak jaman kemerdekaan.

Tidak hanya itu, ada juga koleksi mesin ketik, mesin cek kuno, telepon, dan mesin hitung. Di museum ini juga terdapat perpustakaan mini pada sudut ruangan yang berisikan buku dunia perbankan dan buku umum lainnya. Di sisi lain gedung ini terdiri dari tiga monumen yaitu ada Gedung Replika, Patung Raden Bei Aria Wijiatmaja, dan gedung Museum BRI. Lokasi dari ketiga monumen ini tidak berubah sesuai dengan saat pertama kalinya bank ini beroperasi.

Semangat Pendiri BRI yang Dapat Kita Teladani

Kisah pendiri BRI memang tidak terlalu banyak tersaji di dalam buku sejarah. Namun dari keterbatasan tersebut bukan berarti sedikit sedikit pula semangatnya. Banyak yang perlu kita contoh dan teladani bagi generasi muda saat ini. Dimana semangat pendirian BRI pada awalnya didasari dari rasa kepedulian seorang Raden Bei Aria Wirjaatmadja kepada pribumi Indonesia.

Dengan keprihatinan keuangan masyarakat, Ia kemudian menjadikan dirinya sebagai ujung tombak dari kesejahteraan bangsa. Buktinya Bank BRI sampai saat ini adalah sebagai pelopor Micro Finance di dunia. Hal ini terjadi jauh sebelum M. Yunus sebagai pemenang Nobel Ekonomi mendirikan Bank Micro Finance-nya sendiri.

Bank BRI memang sampai saat ini masih konsisten dengan pelayanan pada masyarakat bawah. Salah satu upayanya yaitu dengan fokus memberikan fasilitas kredit kepada pengusaha kecil. Hal ini tercermin antara lain dari data perkembangan penyaluran KUK pada tahun 1994 sebesar Rp. 6.419,8 milyar yang meningkat menjadi Rp. 8.231,1 milyar pada tahun 1995. Kemudian pada tahun 1999 mencapai Rp. 20.466 milyar.

Raden Bei Aria Wirjaatmadja dari segala upayanya menjadikan Indonesia sebagai role model dan serta penerang utama bagi dunia international, yang dibuktikan dengan prestasi luar biasa, baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Sebagai salah satu contohnya adalah BRI menjadi satu-satunya perusahaan Indonesia yang masuk dalam The Big 50 yang diakui majalah Forbes.

Dari inspirasi kisah pendiri BRI ini kita perlu mengklarifikasi terkait gelar pahlawan yang sering kali dikeluarkan dan dijadikan patokan. Bahwa pahlawan pada dasarnya bukan saja mereka yang memegang senjata dan memikirkan strategi perang untuk memperoleh kemerdekaan. Melainkan mereka juga yang peduli dan melakukan tindakan nyata bagi kesejahteraan dan kemajuan bangsa dan masyarakat.

Namun tidak bisa dinafikkan memang, bahwasannya para jenderal perang memiliki andil yang besar terhadap diperolehnya kemerdekaan Republik Indonesia. Akan tetapi untuk saat ini, para penerus bangsa tentu harus berfikir jernih dan tidak mengurung stigma terhadap kepedulian bangsa.

Generasi Penerus Bangsa

Dari kisah pendiri BRI ini kita dapat belajar untuk mau melakukan sesuatu yang bermanfaat dalam bidang apapun sesuai dengan kemampuan yang dimiliki. Selanjutnya adalah menjadikan gerakan tersebut sebagai pengabdian kepada bangsa Indonesia. Karena dengan demikian, dengan terbukanya pikiran dan wawasan yang tidak dipersempit akan senantiasa memberikan harapan yang tinggi untuk mencapai kemajuan yang sebenarnya.

Indonesia adalah negara yang besar dan kaya. Kekayaan Indonesia tidak hanya terletak pada sumber daya alamnya saja. Melainkan sumberdaya manusianya pun, yang saat ini dipegang oleh generasi muda merupakan harta yang tidak ternilai harganya. Generasi muda menjadi tolok ukur yang dapat digunakan untuk dapat memprediksi kelangsungan hidup bangsa ini di masa yang akan datang.

Mari, mulai saat ini dapat kita deklarasikan diri kita sendiri sebagai bagian dari bangsa Indonesia yang peduli dan mau belajar banyak dari sejarah seperti kisah pendiri BRI ini. Dengan kemampuan yang kita miliki, kita harus menjadi bagian tersuci pahlawan negeri Indonesia dengan tidak membuang waktu sia-sia.

Kita adalah pelopor yang harus membuktikan diri kepada dunia. Karena Indonesia butuh orang-orang seperti kita, seperti Raden Bei Aria Wirjaatmadja.

Baca juga : Kisah Sukses Pendiri Honda : Passion yang Membawanya Meraih Tangga Kesuksesan

Related Posts

About The Author

3 Comments

Add Comment