Kisah Inspiratif

Kisah Sukses Pendiri WhatsApp “Jan Koum” : Aplikasi Instant Messaging yang Digunakan Seluruh Masyarakat Dunia

Pendiri Whatsapp merupakan orang yang dilahirkan bukan dari keluarga yang kaya raya. Dimana ia dapat meminta apapun dengan kedua orang tuanya dan saat itu juga dikabulkan. Kesuksesan yang ia dapatkan dalam mengembangkan aplikasi pesan dengan nama WhatsApp didapatkannya lewat kerja keras dan sikap yang pantang menyerah.

Sampai dengan sekarang WhatsApp mampu menjadi Aplikasi mobile yang paling banyak diakses oleh masyarakat di seluruh dunia.

Kerja keras dan kesuksesan beliau lah yang akan kami bagikan untuk kalian semua yang sedang membaca saat ini. Semoga kisah inspirasi Jan Koum, sang pendiri WhatsApp dapat memotivasi kalian semua untuk dapat menemukan arti kesuksesan yang kalian idamkan.

Selamat membaca,

Kisah Awal Kehidupan Pendiri WhatsApp

WhatsApp Via softonic.com

Jan Koum dilahirkan 41 tahun yang lalu, tepatnya pada tahun 1976 tanggal 24 Februari. Ia dilahirkan di sebuah daerah yang bernama Fastiv, Ukraina. Kedua orang tua Jan Koum merupakan rakyat biasa, dimana ayahnya adalah seorang Manajer Konstruksi dan ibunya hanya sebagai seorang ibu rumah tangga.

Tempat tinggal Jan Koum semasa kecil sangatlah memprihatinkan sebab keluarga mereka hidup dalam segala fasilitas yang terbatas. Mulai dari fasilitas listrik yang tidak memadai sampai pada urusan kebersihan pun serba terbatas. Bayangkan saja, saat itu mereka harus mengantri di tempat pemandian umum jika mereka ingin mandi.

Jan Koum ternyata merupakan seorang anak yang berasal dari keturunan Yahudi. Ditambah lagi di negara tempat ia tinggal saat itu sedang mengalami gejolak politik. Artinya sebagai keturunan Yahudi, mereka harus lebih berhati-hati sebab gejolak politik akan meningkatkan gerakan anti Yahudi yang sangat membahayakan jiwa mereka.

Gejolak politik tersebut menjadikan keluarga Jan Koum memilih untuk pindah ke negara lain yang dianggap lebih aman untuk mereka tinggali. Sampai pada akhirnya pada tahun 1990 Jan Koum dan keluarganya memilih pindah ke Amerika Serikat dan menetap di daerah Mountain View.

Merasakan Sulitnya Hidup dan Perjuangan Keras

Ketika Jan Koum dan keluarganya pindah ke Amerika Serikat ternyata ayahnya tidak ikut pindah dan masih berada di Ukraina. Jan Koum hanya pindah bersama dengan ibu dan neneknya saja ke Amerika Serikat. Selama terpisah jarak dengan ayahnya, Jan Koum dan ibunya tidak bisa menelpon sang ayah terlalu sering. Hal ini untuk menghindari penyadapan yang dilakukan oleh pemrintah Ukraina.

Hal yang lebih memprihatinkannya lagi, sang ayah meninggal pada tahun 1997 di Ukraina dan tidak sempat pindah ke Ukraina untuk tinggal bersama Jan Koum dan Ibunya.

Kehilangan sosok ayah dalam keluarga semakin mempersulit kehidupan Jan Koum dan ibunya yang tinggal di Amerika Serikat. Akhirnya Jan Koum dan ibunya memilih untuk bekerja dan mencari penghasilan agar dapat memenuhi kebutuhan hidup mereka di Amerika. Ibunya pun memilih untuk bekerja sebagai pengasuh anak dan Jan Koum sendiri memilih untuk menjadi penyapu toko agar dapat membantu ibunya.

Meskipun mereka telah bekerja ternyata biaya hidup disana jauh lebih tinggi dan mereka masih saja merasa sangat kekurangan.

Bahkan sebagai gambaran kerasnya hidup yang dilalui Jan Koum, ia sempat merasakan mendapatkan jatah makanan gratis yang seharusnya diperuntukan bagi para gelandangan yang tidak memiliki rumah. Jan Koum juga pernah merasakan tidur hanya dengan beralaskan tanah ditempat-tempat umum.

Kepahitan hidup dan kerasnya hidup yang ia jalani menjadikan Jan Koum menjadi sosok yang kuat dan tangguh dalam menjalani hidup.

Masa-Masa Sekolah dan Pendidikan

Disaat Jan Koum pindah ke Amerika Serikat ternyata ia telah mahir dalam berbahasa inggris sehingga ia pun masuk dan bersekolah di salah satu lembaga pendidikan di Amerika Serikat.

Masa-masa sekolah ternyata Jan Koum dikenal sebagai seorang anak yang nakal. Hal ini disebabkan Jan Koum yang tidak bisa menyesuaikan diri dan sering berkelahi dengan teman-temannya di sekolah.

Meskipun demikian, Jan Koum tergolong dalam anak yang cerdas. Ia pun sangat menyukai dunia pemrograman komputer dan mempelajarinya sendiri secara otodidak lewat buku-buku bekas.

Bahkan kecintaannya terhadap dunia komputer dan pemrograman. Ia pun bergabung menjadi salah satu anggota grup Hacker ketika bersekolah dan grup tersebut bernama w00w00.

Setelah lulus dari sekolah, Jan Koum pun melanjutkan pendidikan tinggi di San Jose University. Berkat kemampuannya dalam dunia komputer, ia pun memilih bekerja sambil kuliah sebagai seorang penguji sistem keamanan komputer pada Ernst & Young.

Mulai Bekerja di Yahoo

Yahoo Via webrazzi.com

Di tahun 1997, Jan Koum  bertemu dengan Brian Acton yang merupakan seorang pegawai Yahoo. Lewat pertemuan tersebut Brian Acton pun menyarankan Jan Koum untuk bekerja dan melamar di Yahoo. Saran itu pun diterima oleh Jan koum, berbekal kemampuannya yang dimilikinya dalam dunia komputer dan pemrograman yang dipelajarinya secara otodidak, ia pun diterima dan mulai bekerja di Yahoo.

Setelah resmi diterima bekerja di Yahoo, cobaan hidup kembali menimpa Jan Koum. Pada tahun 2000, ibunya meninggal dunia akibat penyakit kanker yang dideritanya. Kehilangan kedua sosok orang tua menjadikan Jan Koum hanya tinggal dengan neneknya saja.

Masalah yang menimpanya tidak menjadikan Jan Koum menyerah, ia pun terus berusaha dan bekerja dengan baik di perusahaan Yahoo. Sebagai orang yang ikut bergabung dengan Yahoo di masa-masa awal, Jan Koum menyaksikan dengan sendiri bagaimana proses Yahoo jatuh bangun sampai sekarang mampu menjadi perusahaan besar.

Jabatan yang diemban Jan Koum saat berada di Yahoo adalah sebagai seorang programmer dan ia juga menangani berbagai proyek iklan di Yahoo saat itu.

Ada hal yang lucu saat Jan Koum bekerja sebagai seorang karyawan di Yahoo. Dikarenakan ia saat itu juga sedang kuliah, maka fokus bekerja pun terbagi juga dengan dunia pendidikan. Ia pun sempat dimarahi oleh David Filo yang merupakan CEO Yahoo saat itu.

Ia pun memutuskan untuk fokus bekerja di Yahoo dan meninggalkan bangku kuliah di San Jose University.

Jan Koum pun bekerja di Yahoo selama 7 tahun dan kemudian ia bersama Brian Acton memilih untuk mundur pada tahun 2007. Selepas mundur dari Yahoo, mereka pun memilih untuk melepas penat dan berlibur di daerah Amerika Selatan selama satu tahun.

Melamar Pekerjaan Ke Facebook dan Mulai mengembangkan WhatsApp

Setelah menghabiskan waktu untuk berlibur ke Amerika Selatan, Jan Koum sang pendiri whatsapp dan temannya Brian Acton pun mulai mencari pekerjaan yang lain. Mereka pun mulai melamar pekerjaan ke Facebook namun kali ini nasib baik belum berpihak pada keduanya. Facebook menolak lamaran kerja yang mereka berdua ajukan. Facebook tidak sadar bahwa orang yang ditolaknya adalah sosok pendiri whatsapp yang akan menjadi sosok fenomenal di masa depan.

Kemudian pada tahun 2009, disaat produk Iphone sedang tenar dan banyak digunakan oleh masyarakat. Jan Koum pun panasaran dan mulai untuk mencari tahun dengan membeli sebuah Iphone.

Dari Iphone yang ia beli kemudian mulailah Jan Koum merasa tertarik dengan berbagai kontak dan beberapa aplikasi yang ada di App Store. Iphone inilah yang memberikannya ide untuk menciptakan sebuah aplikasi yang mampu memperlihatkan status pada kontak telepon. Ide sederhana inilah yang merupakan awal mula terciptanya aplikasi WhatsApp yang kita kenal saat ini.

Jan Koum pun mulai menceritakan ide brilian tersebut kepada temannya yang bernama Alex Fishman. Temannya tersebut kemudian memperkenalkan Jan Koum dengan sorang developer aplikasi Iphone yang bernama Igor Solomennikov. Perkenalannya dengan Igor inilah yang menjadikan Jan Koum berhasil untuk mewujudkan idenya membuat sebuah aplikasi pesan yang kemudia ia beri nama WhatsApp.

Hal inilah yang selanjutnya menjadikan Jan Koum berani untuk mendirikan sebuah perusahaan yang bernama WhatsApp Inc dan memiliki basis di California, Amerika Serikat pada Februari 2009.

Jan Koum pun mulai sengan serius mengembangkan aplikasi pesan yang ia ciptakan tersebut. Sebab pada awal terciptanya WhatsApp, aplikasi tersebut masih sering mengalami crash dan belum sempurna untuk digunakan oleh banyak orang.

Bahkan pada saat awal meluncurkan aplikasi ini pun, WhatsApp hanya di download oleh 260 orang saja dan itupun kebanyakan temannya sendiri.

Pendiri WhatsApp yang Sempat Berpikir Akan Menyerah

Jan Koum dan Brian Acton Via forbes.com

Perkembangan WhatsApp yang sangat lambat menjadikan Jan Koum hampir saja menyerah dan berpikir untuk tidak melanjutkan mengembangkan aplikasi ini. Ia pun sempat berpikir untuk bekerj apa saja dan tidak berniat untuk melanjutkan pengembangan WhatsApp.

Melihat Jan Koum yang hampir menyerah, Brian Acton pun memberi semangat kepada temannya tersebut dan meyakinkan kepadanya untuk terus melanjutkan pengembangan aplikasi WhatsApp. Brian Acton pun mengatakan bahwa cobalah untuk mengembangkan aplikasi ini untuk beberapa bulan lagi untuk melihat perkembangannya.

Mendapat dukungan dari teman karibnya, Jan Koum pun mulai mengambangkan kembali aplikasi WhatsApp.Disaat itu kemudian Apple mulai datang dan memberikan bantuan push notification. Sehingga dengan ini, ketika pangguna WhatsApp mengubah status mereka  maka otomatis akan memberi kabar kepada pengguna yang lain.

Mulai Berkembang dan Terus Meningkat

Pada versi pertama, WhatsApp hanyalah sebuah aplikasi untuk melakukan update status di dalam kontak Iphone. Barulah kemudian Jan Koum mulai merilis WhatsApp v2.0, dimana versi ini dilengkapi dengan tambahan fitur berupa pesan instan ke sesama pengguna. Tambahan fitur inilah yang kemudian menaikkan pengguna Whatsapp dan berhasil mendapatkan 250.000 pengguna baru.

Saat itu saingan WhatsApp hanyalah Blackberry Messengger (BBM), namun hal tersebut tidak mengkhawatirkan Jan Koum sebab BBM hanya terbatas penggunaannya di Blackberry saja.

Melihat perkembangan WhatsApp yang semakin pesat, akhirnya Brian Acton pun mulai membantu Jan Koum mencari investor untuk mendanai aplikasi whatsapp. Dana pun terkumpul yang berasal dari mantan karyawan Yahoo sebesar 250.000 USD. Akhirnya resmilah Brian Acton masuk dan bergabung dengan Jan Koum dalam mengembangkan aplikasi Whatsapp.

Jan Koum terus melakukan pengambangan terhadap aplikasi yang dibuatnya, hingga kemudian ia berhasil membuat sebuah fitur baru dimana para pengguna whatsapp dapat saling mengirim foto. Ditambah lagi Jan Koum mulai merilis whatsapp untuk bisa digunakan oleh jenis perangkat lain seperti Android dan Blackberry.

Kemudian WhatsApp mulai diubah menjadi aplikasi berbayar di tahun 2010 dan Jan Koum pun berhasil membukukan pendapatan dibulan pertama sebesar 5000 USD.

Masuk pada tahun 2011, aplikasi WhatsApp yang dikembangkan Jan Koum mampu menembus 20 besar sebagai aplikasi paling populer di App Store. Prestasi ini juga yang membuat Sequila Capital kembali memberikan dana investasi sebesar 50 Juta Dollar ke dalam perusahaan dan nilai WhatsApp kian naik menjadi 1.5 Miliar USD.

Presatasi yang dimilik Jan Koum atas aplikasi buatannya membuat Facebook mulai tertarik untuk membeli WhatsApp , namun permintaan tersebut ditolak oleh Jan Koum. Jan Koum pun terus mengembangkan WhatsApp dan berhasil memiliki pengguna aktif sebesar 200 juta pengguna.

Setuju Menjual WhatsApp dan Menjadi Orang Kaya Baru

WhatsApp yang terus berkembang menjadi salah satu aplikasi yang memiliki banyak pengguna menjadikan Facebook dan Google mulai berebut untuk memiliki WhatsApp lewat akuisisi. Selanjutnya Jan Koum pun mulai setuju dan akhirnya menjual aplikasi WhatsApp kepada Facebook senilai 19 Miliar USD.

Penjualan ini juga yang menjadikan Jan Koum dan Brian Acton menjadi orang kaya baru dengan kekayaan yang melonjak drastis sejak menjual WhatsApp kepada Facebook. Forbes pun melansir, bahwa total kekayaan Jan Koum mencapai 7.9 Miliar USD atau sekitar 109 Triliun Rupiah pada tahun 2015 yang lalu.

Pentingnya Seorang Sahabat untuk Mendukung Usaha Kalian

Kisah Jan Koum dalam mendirikan aplikasi WhatsApp memiliki banyak sekali perjuangan yang harus dilewati. Jalan mencapai kesuksesan tidak selalu mulus dan lancar karena pasti ada rintangan dan masalah yang harus dihadapi.

Hal ini jugalah yang dirasakan oleh Jan Koum saat awal-awal mengembangkan WhatsApp. Dimana pada saat itu hanya ada sedikit sekali orang yang menggunakan aplikasi perpesanan yang ia buat. Meskipun ada yang menggunakan itupun hanya orang-orang terdekat yang menjadi temannya.

Perkembangan whatsapp yang dinilainya lamban membuat Jan Koum hampir putus asa dan mulai berpikir untuk berhenti mengembangkan WhatsApp. Beruntungnya Jan Koum memiliki seorang sahabat yang peduli dan memberikannya semangat disaat ia mulai putus asa.

Brian Acton meminta Jan Koum untuk mencoba sekali lagi usahanya untuk mengembangkan whatsapp. Benar saja, semangat yang ia berikan menjadikan Jan Koum kembali bangkit dan berjuang meneruskan perkemabngan whatsapp hingga mampu besar dan memiliki banyak pengguna seperti sekarang.

Pendiri Whatsapp Mencintai Apa yang Dikerjakan

Kesuksesan Jan Koum sebagai pendiri whatsapp dalam mengembangkan aplikasinya merupakan faktor dari rasa sukanya atas dunia komputer sedari kecil. Kecintaannya inilah yang membuat dirinya dengan senang hati belajar pemrograman secara otodidak melalui buku-buku bekas yang ada. Bahkan ia sendiri memiliki sebuah kelompok yang sama-sama mencintai dunia komputer saat masih remaja.

Bukan Cuma itu berkat bakat dan kesukaannya terhadap dunia pemrograman komputer, Jan Koum mampu diterima bekerja di Yahoo sebagai seorang programmer padahal saat itu ia belum lulus dari Universitas. Hal inilah yang membuktikan bahwa kecintaan terhadap sesuatu membuat kalian dengan senang hati mempelajari dan akhirnya akan mempu memiliki kompetensi yang akan bermanfaat dalam dunia kerja yang sesungguhnya.

Temukanlah apa yang menjadi kesukaan kalian, carilah hal tersebut dan tekunilah dengan sungguh-sungguh. Yakinlah bahwa suatu saat apa yang kalian sukai tersebut akan mendukung kalian untuk sukses dan berkembang di masa depan.

Kisah sukses Jan Koum, sang pendiri whatsapp, memberikan banyak sekali pelajaran hidup yang amat berarti. Mulai dari perjuangannya dari kecil sampai mampu sukses mendirikan aplikasi WhatsApp yang sekarang kita kenal. Semoga kisah diatas mampu menginspirasi kita semua. Serta membuat kita mengikuti jejak pendiri whatsapp menjadi salah satu orang yang sukses di masa depan.


Loading...
Baca selengkapnya

Ideas and Thought Must be Submited | Passionate in Business and Investment |

Artikel terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close